RAKYAT.NET, Jakarta — World Health Organization (WHO) menilai pengembangan antibiotik-antibiotik baru di dunia mengalami perlambatan. Studi WHO menununjukkan bahwa, meski terbilang banyak, pengembangan antibiotik baru saat ini kemungkinan masih kalah cepat dengan peningkatan resistansi terhadap antibiotik.

Per Mei lalu, tercatat ada 51 antibiotik dan 11 obat biologis yang sedang dikembangkan oleh para peneliti di dunia. Obat biologis diyakini dapat menggantikan peran antibiotik dalam terapi pegobatan di masa mendatang.

Meski terkesan banyak, WHO memperkirakan jumlah antibiotik dan obat biologis baru yang sedang dikembangkan tersebut tidak cukup. Alasannya, hanya 33 dari 51 antibiotik yang menyasar patogen prioritas yang menjadi ancaman besar bagi kesehatan penduduk dunia. Salah satu di antaranya adalah patogen tuberkulosis (TB) resistan obat.

Dari 33 antibiotik tersebut, hanya delapan antibiotik yang merupakan terapi inovatif dan benar-benar baru. Sedangkan 25 antibiotik lainnya merupakan hasil dari modifikasi sederhana dari keluarga antibiotik yang sudah ada.

Dalam kemungkinan terbaik, WHO mengakatan ke-25 antibiotik tersebut hanya akan menjadi solusi jangka pendek. Karena merupakan hasil modifikasi sederhana dari keluarga antibiotik yang sudah ada, bakteri akan dengan cepat beradaptasi terhadap antibiotik baru ini dan kemudian kembali kebal atau resistan terhadap antibiotik-antibiotik baru tersebut.

“Dokumen ini merupakan rangkuman menakjubkan dari situasi antibiotik saat ini,” ungkap associate professor di bidang epidemiologi dari Harvard TH Chan School of Public Health, Bill Hanage, kepada CNN seperti dilansir WebMD.

Hanage mengatakan peningkatan kasus infeksi yang resisten terhadap obat semakin memperbesar kemungkinan siapapun untuk mati akibat infeksi tersebut. Di sisi lain, kondisi ini juga dapat membuat layanan kesehatan menjadi semakin mahal.

Hanage juga menambahkan bahwa tidak semua obat yang sedang dikembangkan bisa digunakan untuk manusia. Sebelum obat adapat diberikan kepada manusia, obat ini harus lulus dari tiga tahap uji coba.

“Obat-obat yang memasuki tahap itu hanya memiliki kesempatan sebesar 14 persen untuk lulus dan diizinkan penggunaannya pada manusia,” jelas Hanage.

Sumber: republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here