Merdeka.comHengkangnya ExxonMobil dari Blok East Natuna disambut positif oleh berbagai kalangan. Alasannya, dengan keluarnya Exxon, pengelolaan blok yang memilikikandungan migas empat kali lipat dari blok Mahakam tersebut dapat dikelola sepenuhnyaoleh PT Pertamina (Persero) selaku perusahaan BUMN.

Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi mengatakan, tidak mempermasalahkan hengkangnya ExxonMobil dari East Natuna. Sebab, Pertamina bisa mencari partner lain yang bisa diajak kerja sama dalam mengelola blok tersebut.

“Kalau Exxon tidak mau, ya tidak masalah, kan Pertamina bisa mencari partner lain,” katanya di Jakarta, Senin (24/7).

Menurutnya, kerja sama di East Natuna tersebut hanya sebatas pemisahan karbondioksida (CO2) dari metane. Sebab, Exxon memiliki teknologi untuk memisahkan karbondioksida dari metane yang akan dijadikan dalam bentuk LPG dan dialirkan melalui pipa gas.

“Teknologi pemisahan Co2 ini sekarang sudah dimana-mana, banyak yang bisa. Jadi tidak perlu bergantung kepada Exxon,” ujarnya.

Sementara itu, Pengamat dari Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmi Radhi menambahkan dengan keluarnya Exxon dari East Natuna, maka Pertamina bisa mencari partner baru dengan menggunakan skema business to business (b to b). Hal tersebut akan menguntungkan Pertamina selaku pemegang konsesi blok tersebut.

Pertamina menjadi lebih leluasa dalam mengelola blok tersebut dan dapatmenentukan siapa yang bisa diajak kerja sama,” jelas Fahmi.

Hanya saja, lanjut Fahmi, hengkangnya Exxon menjadi preseden buruk dalam pengelolaan blok migas di Indonesia. Apalagi, selama puluhan tahun blok tersebuttidak tersentuh lantaran sangat bergantung pada Exxon.

Langkah Exxon yang membiarkan pengembangan blok East Natuna terbengkalai sangat merugikan pemerintah Indonesia. Karena itu, atas sikap wan prestasi Exxon, pemerintah dapat mengajukan gugatan.

“Meskipun baru potensi kerugian, namun itu bisa jadi preseden buruk bagi pengelolaan migas lainnya. Tapi itu semua tergantung Pemerintah, apakah akan melakukan gugatan atau tidak,” kata Fahmi.

Saat ini, terdapat tiga kontraktor yang akan mengembangkan Blok East Natuna yaitu PT Pertamina (Persero) dan ExxonMobil dengan penguasaan saham sebesar 42,5 persen. Sementara 15 persen sisanya dimiliki PTT EP.

Namun, sampai negosiasi terakhir tidak terjadi titik temu, hingga akhirnya Exxonmemilih mengembalikan kepemilikan East Natuna kepada Pertamina.

[sau]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here