JAKARTA, KompasProperti – Mulai Oktober 2017, Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan merealisasikan transaksi non-tunai di seluruh ruas tol. Realisasi tersebut diyakini dapat memangkas waktu transaksi secara signifikan.

Menurut General Manager Tol Jagorawi Roy Ardian Darwis, selama ini banyak waktu terbuang untuk transaksi di gerbang tol.

Mulai dari menerima pembayaran, memastikan uang yang dibayarkan pas, hingga menghitung kembalian. Hal itulah yang kerap kali menimbulkan kemacetan di jalan tol.

“Jadi itu siapkan dulu, berhenti. Itu transaksinya biasanya bisa memakan waktu 11 detik. Tapi dengan cash less, itu dia bisa cuma empat detik, bahkan kurang,” kata Roy dalam sebuah diskusi di Rest Area KM 10 Jalan Tol Jagorawi, Rabu (31/5/2017).

Berdasarkan catatan BI, tingkat transaksi non-tunai di 35 ruas jalan tol baru mencapai 25 persen.

Jumlah tersebut dipandang masih rendah, sehingga pemerintah berencana mengintervensi penggunaan sistem pembayaran non-tunai.

Sejumlah kendaraan yang memutar balik tidak jadi masuk Gerbang Tol Semanggi I akibat pemiliknya tidak memiliki e-money, Rabu (17/12/2014). Terhitung sejak 16 Desember 2014, Gerbang Tol Semanggi I tidak lagi menerima transaksi tunai dan hanya melayani transaksi elektronik melalui penggunaan e-money.(Alsadad Rudi)

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, ada sejumlah keuntungan yang dapat diperoleh bila kebijakan tersebut sepenuhnya telah dijalankan.

Keuntungan itu tak hanya diterima masyarakat pengguna jalan tol, melainkan juga pihak operator.

Dari sisi masyarakat, membayar tol melalui transaksi non-tunai dapat memberikan rasa aman. Pasalnya, jumlah uang yang dibayar lebih akurat.

“Selain itu juga lebih cepat serta nyaman, karena tidak perlu ada penghitungan uang kembalian, atau uang kembalian jatuh, dan lain-lain,” kata dia.

Sementara itu, dari sisi pengelola, elektronifikasi pembayaran tol dapat menurunkan empat risiko.

Keempatnya yakni risiko fraud karena adanya proses manual oleh manusia, risiko kesalahan penerimaan dan pengembalian, risiko penerimaan uang palsu, dan risiko keamanan saat pengumpulan uang tunai.

Penulis: Dani Prabowo

Editor: Hilda B Alexander

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here