TEMPO.CO, Jakarta – Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, berhasil menorehkan prestasi sebagai dua perempuan pertama Indonesia yang berhasil menjejakkan kaki di Puncak Gunung Denali, Alaska, Amerika Serikat. Kini, anggota The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU) ini bersiap-siap menyelesaikan misi terakhirnya, mendaki gunung tertinggi di dunia, Everest, di perbatasan Nepal dan Tibet.

Rencananya, ekspedisi pamungkas itu akan dimulai sesuai musim pendakian Everest pada awal April. Waktu pencapaian puncak sekitar pertengahan Mei. Selama 1,5 bulan mereka akan hidup dan tinggal di Everest bersama pendamping warga lokal (sherpa). “Taksiran biaya pendakian ke Everest sekitar Rp 1,8 miliar per orang,” kata Deedee, panggilan akrab Fransiska Dimitri Inkiriwang, saat dijumpai di kampusnya, Ahad, 6 Agustus 2017.

Sebagai pendaki yang masih tercatat sebagai mahasiswa semester akhir jurusan Hubungan Internasional, Universitas Katolik parahyangan, Bandung, Jawa Barat, keduanya juga dikejar kewajiban lain. Duo pendaki tersebut harus kembali masuk kampus untuk segera menyelesaikan skripsinya.

Deedee mengatakan sejak terpilih sebagai anggota tim WISSEMU, mereka siap menerima konsekuensi tidak bisa cepat lulus menjadi sarjana. Alasannya, mereka harus mempertahankan status mahasiswi sepanjang pendakian Seven Summits berjalan. “Dulu masa ekspedisinya diperkirakan dua tahun, tapi bisa lebih,” ujarnya.

Rektor memberikan dispensasi terkait absensi kuliah. Meskipun waktu pendakian dirancang ketika liburan semester, waktu perkuliahan ada yang terlewat juga. “Absen nggak dihitung, ada surat dari Rektorat ini tugas negara. Kalau ujian kami tidak pernah lewat,” kata Mathilda.

 


Pendaki wanita Mathilda Dwi Lestari (kiri) dan Fransisca Dimitri Inkiriwang saat berlatih di kampus Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. TEMPO/Prima Mulia.

 

Di sela-sela kesibukan menyelesaikan skripsinya, Deedee dan Mathilda pun merancang pola latihan fisik untuk pendakian Gunung Everest. Pola latihan fisik yang ketat hingga pencapaian satu per satu target puncak gunung membuat keseharian keduanya berubah. Salah satunya, mereka harus melupakan sejenak urusan kecantikan dan merawat tubuh. “Mau ke salon jadi percuma, besok sudah latihan lagi,” kata Deedee.

Untuk menjaga kulit tetap aman dari sengatan terik matahari, mereka biasanya memakai sunblock. Lucunya, selama ini mereka hanya menganggap sunblock itu sebagai bagian dari kosmetika tubuh. Fungsi penting sunblock pada pendakian baru mereka peroleh saat di Gunung Denali, Alaska, Amerika Utara.

Pemandu gunung mereka yang terkenal ketat soal keselamatan, memberitahu fungsi sunblock untuk melindungi dari sengatan matahari hingga kulit terasa ‘terbakar’ (sunburn). Kondisi itu bisa membuat kulit menjadi lemah dan rawan terkena frostbite atau serangan udara sangat dingin yang mematikan jaringan anggota tubuh seperti jemari. Dampaknya, pendaki bisa kehilangan jari atau sebagian karena harus diamputasi. “Biasanya pakai demi kecantikan, baru tahu safety-nya seperti itu,” kata Deedee.

Pola latihan fisik juga membuat kegiatan harian mereka teratur. Bangun pagi, latihan fisik, makan siang tidak boleh telat, sore harinya istirahat. Ajakan teman untuk kongkow malam hari terpaksa ditolak. “Sekarang sudah nggak kuat karena pagi sudah harus latihan,” ujar Deedee. Siklus hidup yang teratur seperti itu, kata Mathilda,  membuat mereka tidak gampang jatuh sakit.

Dukungan keluarga juga menguatkan langkah mereka untuk berkelana di pegunungan bersalju yang semakin dingin oleh hembusan angin kencang itu. Orang tua mereka berdoa setiap hari untuk keselamatan anak-anaknya. Mereka juga selalu mengantar dan menjemput di bandara. “Bawain makanan setiap pulang dari gunung, cerita soal anaknya kemana-mana. Tapi tetap selalu mengingatkan kuliah juga,” kata Mathilda.

Meskipun makanan dijamin oleh agen perjalanan, Deedee dan Mathilda selalu membawa kuliner kesukaan mereka. “Daging asap dan mi instan, top banget,” ujar Deedee. Mereka pun membawa sambal, susu jahe, dan ramuan tolak angin agar tak sakit. “Terbukti manjur buat kami,” kata Mathilda.

 


Mathilda Dwi Lestari (kiri) dan Fransisca Dimitri Inkiriwang dari tim WISSEMU di sekretariat Mahitala, Bandung. TEMPO/Prima Mulia.

Selama ini, mereka bisa melahap makanan apa pun yang disediakan agen perjalanan maupun porter yang memasak. Kebutuhan makanan mereka sekitar 5.000 kalori per hari dengan dua kali makan. “Guide juga senang karena makan kami bagus,” kata Deedee. Faktor makan pendaki menjadi salah satu pertimbangan pemandu untuk memutuskan layak tidaknya mereka ke puncak, misalnya saat di Gunung Denali, Alaska, Amerika Utara.

Mathilda mengaku, pengalaman mendaki enam dari tujuh gunung Seven Summits membuat dirinya menjadi lebih ikhlas. “Seperti nanti ke Everest, kami ya takut mati,” katanya. Selain tulus menghadapi risiko kematian, Mathilda juga berlatih keras agar bisa kembali pulang ke Tanah Air setelah ekpedisi pamuncak itu.

Selain latihan fisik dan simulasi pendakian ke puncak yang memakan waktu selama 24 jam, mereka akan mengikuti segala arahan dan masukan dari pemandu agar bisa pulang ke Tanah Air dengan selamat.

ANWAR SISWADI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here