KOMPAS.com – Benda serupa kendi yang jatuh di Sumatera Barat pada Selasa (18/7/2017) diduga kuat merupakan bagian dari roket milik China, Chang Zheng 3-A.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memastikan tersebut dan mengatakan, “Itu bagian dari tabung bahan bakar.”

Thomas mengatakan, benda tersebut jatuh karena ketinggiannya terus menurun sejak menjadi sampah antariksa usai peluncuran Chang-Zheng 3A dan muatannya, satelit Beidou M1.

Ketika mencapai ketinggian 120 kilometer, puing CZ-3A itu tak bisa lagi mempertahankan diri dan akhirnya tertarik gravitasi.

“Aslinya, tangki bahan bakar itu berukuran besar tetapi saat masuk atmosfer pecah. Sebagian mungkin jatuh di laut atau hutan,” ungkap Thomas.

Thomas mengatakan, lintasan orbit CZ-3A membantu LAPAN memastikan bahwa puing yang jatuh memang merupakan satelit tersebut.

“Dalam hitungan orbit, obyek itu measuki atmosfer Sumbar pada pukul 09.07 (hari ini),” ungkap saat dihubungi Kompas.com hari ini.

Menurutnya, hanya butuh waktu beberapa menit bagi obyek itu untuk mencapai permukaan bumi. Waktu perkiraan jatuhnya puing mungkin berbeda dengan laporan warga.

Fenomena ini merupakan kasus kesekian kali jatuhnya sampah antariksa di Indonesia. Beberapa waktu lalu, Indonesia juga kejatuhan sampah antariksa di Sumenep.

Seiring berkembangnya teknologi keantariksaan, jumlah sampah antariksa pun akan meningkat. Jadi, peluang jatuhnya sampah antariksa di Indonesia pun makin tinggi.

 

PenulisYunanto Wiji Utomo

EditorYunanto Wiji Utomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here