RAKYAT.NET, Jakarta – Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga menyentuh level Rp 14.710 per dollar AS. Terburuk sejak krisis moneter tahun 1998. Berbagai faktor menjadi penyebab rupiah tak berdaya.

Kurs rupiah terus terpukul terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Hantaman terhadap kurs emerging market dan kekhawatiran perang dagang global mendorong investor mengamankan uangnya dari aset-aset berisiko.

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah pukul 8:53 WIB, Jumat (31/8) di pasar spot diperdagangkan di Rp 14.710 per dollar AS. Ini merupakan posisi terlemah rupiah sejak Juni 1998, yang sempat menyentuh Rp 14.750 per dollar AS.

Di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate juga menunjukkan nilai tukar rupiah antarbank melemah ke level Rp 14.711 per dollar AS.

Bank Indonesia menegaskan tetap berada di pasar valuta asing agar pelemahan rupiah tak cepat dan tajam. “BI juga masuk ke pasar membeli SBN, untuk menjaga market confidence,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah kepada KONTAN, Kamis (30/8) malam.

Hari ini, BI sudah membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp 3 triliun. “BI hari ini sudah beli SBN Rp 3 triliun dan masih akan berlanjut,” kata Nanang kepada KONTAN, pagi ini.

Sampai kemarin, BI sudah membeli Rp 79,23 triliun SBN. Jumlah itu terdiri dari pembelian SBN di pasar sekunder mencapai Rp 22,18 triliun dan pembelian di pasar perdana mencapai Rp 57,23 triliun.

“Dari pasar SBN ada outflows dana asing, oleh karenanya BI masuk pasar SBN untuk mencegah terjadi sell-off,” tambah dia. Dengan begitu, harga SBN relatif terjaga.

Kurs rupiah melemah terutama karena pasar tengah risau dengan kondisi ekonomi ke depan. AS yang berencana menerapkan tarif impor tinggi secepatnya pada produk dari China dikhawatirkan memicu perang dagang global. Krisis peso Argentina juga menyeret mata uang emerging market.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipicu pembelian valas oleh korporasi untuk impor.

Sumber: kontan.co.id