RAKYAT.NET, Jakarta – Bukan hal baru saat teknologi kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) dimanfaatkan dalam sektor kesehatan. Seperti yang dilakukan oleh peneliti kali ini, yang mengembangkan AI untuk mendiagnosis penyakit Alzheimer.

Proyek ini bahkan mampu mendiagnosis Alzheimer hampir satu dekade sebelum gejala penyakit itu muncul. Sistem deteksi non-invasif melibatkan penggunaan algoritma machine learning yang mengidentifikasi perubahan struktur kecil di otak untuk menemukan tanda-tanda awal penyakit neurodegeneratif.

Algoritma ini telah dikembangkan oleh peneliti Nicola Amoroso dan Marianna La Rocca dari University of Bari, Italy. Selama pengujian awal, algoritma itu bahkan sangat terbukti berhasil. Para peneliti memberi asupan sistem mechine learning mereka dengan serangkaian pemindaian 67 MRI. 38 diantaranya berasal dari orang-orang yang Alzheimer sementara 29 lainnya berasal dari kontrol yang sehat.

Kemudian mereka membagi pemindaian ini ke wilayah kecil dan membiarkan sistem menganalisis konektivitas neuron. Saat diuji pada tahap awal, algoritma tersebut menganalisis pemindaian otak dari 148 subjek dimana 52 sebjek sehat, 48 dengan Alzheimer dan 48 denganlainnya mengalami gangguan kognitif ringan (MCI), yang tumbuh menjadi Alzheimer selama periode tiga sampai sembilan tahun.

Ini diklasifikasikan dan dibedakan antara otak yang sehat dan berpenyakit dengan akurasi 86%. Sementara subyek yang didiagnosis serta diobservasi dengan MCI akurasinya 84%. Dalam kasus ini, deteksi MCI menunjukkan bahwa AI dapat mengidentifikasi perubahan otak kecil yang menyebabkan Alzheimer hampir satu dekade sebelum munculnya gejala klinis. Diketahui Alzheimer tak memiliki penyembuhan yang nyata, namun ada beberapa obat yang bisa menurunkan perkembangan kondisi dan pengaruhnya.

Perawatan akan bekerja lebih baik jika dimulai lebih awal, sebuah faktor yang telah mendorong beberapa peneliti di seluruh dunia untuk merancang teknik baru dalam mendiagnosis penyakit sedini mungkin. Teknik seperti analisis cairan serebrospinal dan pencitraan otak secara akurat dapat memprediksi perkembangan awal Alzheimer sebelum 10 tahun.

Namun metode ini sangat invasif dan mahal. Disinilah peran kecerdasan buatan berperan. Algoritma machine learning saat ini didasarkan pada seperangkat data kecil, namun saat diberi lebih banyak data, alat ini dapat dikembangkan menjadi alat non-invasif lengkap untuk deteksi dini Alzheimer. Demikian seperti dilansir IB Times, Selasa (19/9/2017).

Sumber: okezone.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here