RMOL. Serikat Petani Indonesia (SPI) mengikuti konferensi ke-7 La Via Campesina atau Gerakan Petani Internasional yang digelar di Basque Country, Bilbao, Spanyol, 16-24 Juli 2017.

Konferensi yang mengangkat tema ‘We Feed Our Peoples and Build The Movement to Change The World!’ itu dihadiri ratusan perwakilan petani dari 200-an organisasi tani dari 79 negara.

Koordinator Umum La Via Campesina Elizabeth Mpofu menyampaikan, konferensi sebagai langkah strategis melawan kekuatan global kapital dan membangun sebuah gerakan untuk perubahan.

“Konferensi ini cukup unik, kita semua berasal dari jenis gerakan dan budaya yang berbeda namun bersatu dalam perjuangan. Kita adalah orang-orang yang bekerja di lahan kita dan memberi makan masyarakat dunia, namun kita kerap dikriminalisasi.

Konferensi ini adalah momen yang pas untuk menginternasionalisasikan perjuangan-perjuangan kita, menerapkan langkah-langkah strategis agar kedaulatan pangan di masing-masing negara kita terwujud,” papar Elizabeth dalam pembukaan Konferensi ke-7 La Via Campesina, Rabu kemarin (19/7).

Hal senada disampaikan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih yang turut hadir dalam konferensi ini. Menurutnya, kehadiran SPI sebagai anggota La Via Campesina untuk meneguhkan perjuangan dan tekad kaum tani sebagai penyedia pangan dunia. Terkhusus Indonesia sehingga tercapai kedaulatan pangan di Nusantara.

“Ini juga sekaligus tantangan terhadap agenda neoliberalisme berupa privatisasi dan liberalisasi investasi dan pasar. Diantaranya melalui WTO (organisasi perdagangan dunia) dan beragam perjanjian perdagangan. Sistem inilah yang menghasilkan ketimpangan ekonomi dan sosial,” jelasnya kepada redaksi, Jumat (21/7).
Henry mengatakan, sebagai penyedia pangan, tentu kaum tani membutuhkan alat produksi, khususnya tanah, benih dan air.

“Di sinilah letak urgensi reforma agraria sebagaimana yang dijanjikan pemerintahan Jokowi-JK. La Via Campesina dan SPI juga mempromosikan sistem pertanian agroekologi sebagai alternatif revolusi hijau yang meracuni tanah dan bahkan petani. Serta menghasilkan ketergantungan petani atas input-input pertanian,” lanjutnya.

Zainal Arifin Fuad selaku ketua Departemen Luar Negeri DPP SPI menambahkan, pihaknya bersama La Via Campesina harus membangun gerakan bersama dengan organisasi rakyat lainnya, bahkan negara. Untuk mengantisipasi bahaya kekuatan neoliberalisme.

“Satu yang tak kalah penting dibahas adalah perkembangan terbaru dari hak asasi petani di Dewan HAM PBB di Jenewa yang insya Allah tahun depan akan menjadi sebuah deklarasi internasional,” tambah Zainal yang juga anggota Komite Koordinasi Internasional La Via Campesina.

Konferesi ke-7 La Via Campesina selain menerapkan langkah strategis untuk mewujudkan kedaulatan pangan di masing-masing negara, juga membahas permasalahan global petani lainnya seperti agroekologi, pelatihan petanimandiri, hak-hak kaum migran, perdagangan yang adil, keadilan iklim, hingga kriminalisasi gerakan sosial dan membangun aliansi.

[wah] 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here