JawaPos.com Tahun ajaran baru sekolah diawali dengan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). PPDB online ternyata masih membuat orang tua bingung. Apalagi sistem zonasi dinilai masih tidak adil oleh sebagian orang tua.

Para orang tua di Tangerang, Banten, protes mengapa anaknya tak lulus seleksi padahal Nilai Ebtanas Murni (NEM) anak mereka sudah mencukupi batas masuk negeri.

Suara protes datang dari Sudarmanto, orang tua siswa di SDN Karang Mulya 1, Ciledug, Tangerang, Purba Putra Kusuma Bangsa.  Purba tidak diterima di sekolah yang diinginkan dengan sistem zonasi. Padahal NEM Purba sudah cukup tinggi yakni 25,45. Angka itu cukup untuk masuk sekolah SMP negeri yang diinginkan yakni SMPN 24 dan SMPN 3.

Namun ternyata Purba tergeser dari dua sekolah yang diinginkannya itu. Dicoba lagi didaftarkan ke tiga sekolah negeri lainnya, nama Purba tetap tidak ada dalam daftar siswa yang lolos. Kini akhirnya Purba merasa putus asa karena terpaksa harus bersiap masuk sekolah swasta.

“Anehnya mengapa anak lain ada yang NEM nya 19, 22, 23, 24 saja bisa masuk, diterima. Mengapa anak saya NEMnya tinggi tidak diterima? Ini apakah yang upgrade software ada yang bermain?,” tukas Sudarmanto kepada JawaPos.com, Minggu (9/7).

Sistem zonasi itu meminta siswa agar mendaftar ke sekolah yang jaraknya dekat dengan rumah. Purba sangat ingin diterima di SMPN 24 karena agar bisa bersekolah dengan sang kakak. Namun hal itu kandas tak sesuai harapan karena sistem yang dinilai tak adil.

“Zonasinya itu kan bisa ke sekolah negeri satu RT, RW, dan kelurahan. Padahal rumah saya di RT 003/07 itu hanya 1 kilometer jaraknya ke sekolah yang diinginkan. Dengan NEM yang bagus enggak diterima, anak dengan NEM yang rendah diterima. Saya pertanyakan sebetulnya bagaimana sistem pagunya, batasan nilainya,” tegas Sudarmanto.

Jika karena masalah sistem eror, lanjutnya, tentu hal itu sangat merugikan. Belum lagi jika ada sistem bina lingkungan yang mewajibkan setiap sekolah menerima siswa miskin sebesar 20 persen meski NEMnya rendah.

“Kalau karena alasannya miskin diterima, lho saya juga bukan orang kaya. Masuk swasta saja harus siap Rp 5 juta saya bingung. Buat apa dong anak saya belajar rajin sampai NEMnya bagus tetapi enggak bisa dapat sekolah yang diinginkan. Sekarang kondisi anak saya drop enggak semangat,” ungkapnya. (cr1/JPG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here