JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadimengatakan, pihaknya mengubah sejumlah sistem pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) guna menghindari terulangnya tindak kekerasan di sekolah tersebut.

Sistem pendidikan lama yang digunakan STIP dinilai rawan memicu kekerasan. Sejumlah taruna di sekolah itu tewas dalam beberapa tahun terakhir karena mendapat kekerasan dari senior.

Budi Karya di STIP, Jakarta Utara, Minggu (16/7/2017), mengatakan bahwa STIP tidak lagi memperkenankan siswa senior turun langsung memberikan sejumlah pendidikan kepada para juniornya.

“Karena secara pemberian kewenangan itu disalahgunakan untuk gagah-gagahan,” ujar Budi.

STIP juga memperbanyak jam belajar para taruna dan mengurangi kegiatan ekstrakulikuler. Hal itu dilakukan untuk menghindari gesekan yang terjadi di lingkungan STIP.

Selain itu, STIP membuat sebuah risalah untuk mempertegas hukuman taruna yang melanggar aturan.

“Ada dokumen-dokumen yang dibuat secara khusus untuk melakukan reformasi sekolah. Bahkan ada risalah untuk memberikan punsihmentkepada mereka yang bersalah. Sebaliknya bagi yang berprestasi diberikan apresiasi,” ujar Budi.

Kematian taruna STIP sudah beberapa kali terjadi. Para taruna STIP yang tewas karena kekerasan seniornya antara lain adalah Agung Bastian Gultom (tewas pada 2 Mei 2008), Jegos, (tewas pada 2008), Dimas Dikita Handoko (tewas pada 2014). Taruna terakhir yang tewas adalah Amirulloh Adityas Putra pada 2017.

 

PenulisDavid Oliver Purba

EditorEgidius Patnistik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here