Merdeka.com – “Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun lalu. Waktu terbaik berikutnya adalah sekarang.”

Pepatah China itu pantas disematkan kepada Abdul Samad Sheikh. Pria penarik becak berusia 60 tahun asal Bangladesh itu adalah sosok nyata yang membuktikan bahwa satu orang bisa membuat perbedaan dan perbuatan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa sangat berarti.

Samad sudah menanam setidaknya satu pohon setiap hari sejak usianya 12 tahun.Artinya hingga saat ini dia sudah menanam lebih dari 17.500 pohon sepanjang hidupnya.Bayangkan jika tiap orang mengikuti jejaknya.

Di kampung halamannya di Faridpur, dia dikenal sebagai pria dengan sebutan “Samad Pohon“. Sebagai penarik becak dia hanya mendapat penghasilan sekitar Rp 15 ribu per hari. Uang itu jelas sedikit sekali untuk memenuhi kebutuhan perut keluarganya, tapi Samad nyatanya bisa bertahan dan bahkan dia mampu membeli setidaknya satu pohon di Pusat Hortikultura Faridpur saban hari.

“Saya tak bisa tidur sepanjang malam kalau tidak menanam sebatang pohon,” kata dia ketika diwawancara harian the Daily Star dan dilansir laman Oddity Central, Selasa (4/7).

“Saya sudah menanam pohon sejak usia 12 tahun. Seringnya saya menanam di tanah milik pemerintah supaya tidak ada orang berani menebangnya. Saya juga merawat dan menyiramnya. Saya cinta semua makhluk hidup, binatang juga, tapi terutama pohon,” kata Samad.

Abdul Samad Sheikh ©Daily Star

Dia bersama istri dan empat anaknya tinggal di sebuah dua gubuk sederhana yang berdiri di tanah milik kantor pemerintah di Faridpur. Samad tidak punya lahan sendiri dan penghasilannya juga tidak cukup buat memenuhi kebutuhan keluarga tapi dia selalu mengutamakan membeli sebuah pohon. Istrinya, Jorna, kadang memarahinya, tapi dia tidak peduli.

“Pendapatannya tidak besar dan dia harus mengidupi keluarga,” ujar Jorna. “Kadang saya melarang dia menanam tapi dia tidak mau dengar. Cintanya menanam pohontidak bisa dicegah.”

“Saya tidak pernah melarang ayah untuk tidak menanam pohon. Dia berbuat baik untuk lingkungan,” kata Kutub, anak Samad berusia 30 tahun.

Tetangga Samad sudah tahu mengenai kebiasaan uniknya itu. Sebagian orang mengaku sudah melihatnya menanam pohon sejak dia masih kecil. Sejumlah warga menunjukkan ada banyak pohonpohon besar yang sudah Samad tanam. Mereka salut dan hormat kepada Samad.

“Samad adalah teladan bagi warga kami,” kata tetangga bernama Abdul Kalam Howlader. “Perbuatannya sungguh menginspirasi saya.”

Abdul Samad Sheikh ©Daily Star

Atas jasanya itu Samad baru-baru ini mendapat penghargaan dari harian the Daily Star dan dia diberi imbalan uang senilai Rp 16 juta untuk memperbaiki rumahnya. Dalam pidato ucapan terima kasihnya, Samad meminta semua orang mengikuti jejaknya dan melindungi lingkungan.

“Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya butuh bantuan Anda semua,” kata dia.
Sosok seperti Samad tentu paham, meski mendapat imbalan sejumlah uang, bagi dia ‘hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang; hanya bila tetes air sungai terakhir telah tercemar; hanya bila ikan terakhir telah ditangkap; barulah kita sadar bahwa uang di tangan tidak dapat dimakan.’

[pan]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here