Jakarta, CNN Indonesia — Berdasarkan data International Diabetes Foundation 2014, Indonesia menempati posisi kelima di antara negara-negara dengan penyandang diabetes terbanyak di dunia, dengan jumlah penyandangnya mencapai 9,1 juta jiwa. Diperkirakan pada 2030 ada sekitar 21 juta penduduk Indonesia yang menyandang diabetes.

Berbicara di peluncuran buku Diabetes and Me di Kinokuniya, di kawasan Senayan, Jakarta, Kamus (30/4), dr Mohammad Firas selaku pengurus Persadia (Persatuan Diabetes Indonesia) Muda dan juga penyandang diabetes (diabetisi) menjelaskan bagaimana hidup bersama diabetes.

“Tentunya diabetes itu kan bukan penyakit yang seperti sakit flu, dikasih obat kemudian sembuh. Begitu titik kita dinyatakan diabetes harus ada penyesuaian atau harus ada pengetahuan yang kita dapatkan sehingga kita bisa kontrol gula darahnya,” kata Firas.

Menurutnya diabetes adalah pembunuh senyap yang tidak terasa hingga muncul berbagai gejala-gejala seperti turunnya berat badan dengan drastis, luka yang tak kunjung sembuh, cepat mengantuk serta haus. Firas mengungkap bahwa ada metode untuk mengontrol kadar gula darah yang disebut pilar penanganan diabetes.
“Yang pertama adalah aktivitas fisik atau olahraga, semakin kita rajin dan rutin melakukan aktivitas fisik, maka kemampuan tubuh untuk mengendalikan gula darah itu akan semakin baik.”

“Yang kedua, saya selalu menjaga makan, sebagai diabetesi kita harus tahu makanan mana yang impact-nya besar buat gula darah, makanan mana yang tidak.”
“Selain itu tentunya obat-obatan, ini pilar yang sangat penting, kalau saya karena diabetes tipe satu maka harus menggunakan insulin. Namun, diabetes tipe dua yang paling banyak di masyarakat itu bisa menggunakan obat-obatan yang oral (minum),” ujar Firas panjang lebar.

Firas menjelaskan bahwa konsistensi konsumsi obat dan kontrol ke dokter dapat mengendalikan diabetes. Dia juga menekankan pentingnya pengecekan gula darah sebagai pilar keempat, karena hal tersebut dapat memonitor apakah obat, perawatan dan gaya hidup diabetisi sudah tepat dalam mengontrol diabetes.

Pria berumur 31 tahun tersebut juga menyatakan bahwa elemen krusial justru ada di edukasi soal diabetes. Ini karena diabetisi akan hidup bersama diabetesnya seumur hidup.

“Karena sampai sekarang belum ada obat, jadi dia akan menjalani hidup dengan diabetesnya. Bagaimana dia bisa menjalani hidupnya kalau dia tidak mengerti benar bagaimana diabetes itu memengaruhi dirinya, sehingga kita bisa terhindar dari mitos-mitos atau pendapat di masyarakat yang belum tentu benar. Itu yang paling penting,” tutur Firas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here