RAKYAT.NET, Jakarta – Di zaman now seperti sekarang, digitalisasi ekonomi dan otomatisasi merupakan hal mutlak. Namun efek samping kedua hal itu adalah menghilangkan banyak jenis pekerjaan dari berbagai sektor jasa dan industri.

Memang, digitalisasi dan atau otomatisasi ini bisa mengerek produktivitas, karena mampu menciptakan efisiensi dan efektivitas. Sehingga produk lebih kompetitif plus inovatif. Lantas apa yang harus dilakukan oleh sektor industri dan jasa menghadapi tren digitalisasi?

Sebab jika pelaku usaha di sektor ini tidak cepat berbenah kemungkinan tergerus semakin besar. Salah satunya di sektor jalan tol. Mulai 31 Oktober 2017 ini, transaksi di jalan tol akan diberlakukan 100% non tunai.

Tengok saja, di PT Jasa Marga, terdapat 1.350 karyawan yang berpotensi kehilangan pekerjaan akibat penerapan uang elektronik di jalan tol. Lantas, PT Citra Marga Nusaphala Persada ada 200 karyawan, PT Hutama Karya sekitar 180 karyawan dan PT Marga Mandala Sakti juga mempekerjakan 200 karyawan di gardu tol.

Beruntung eks petugas tol ini tidak di-PHK, melainkan masuk program alih profesi dengan ditempatkan pada unit lain. “Tahap pertama, Jasa Marga akan mengalihfungsikan sekitar 577-600 karyawan,” ungkap Vice President Operation Management Jasa Marga, Raddy R. Lukman.

Industri percetakan juga termasuk sektor yang terpengaruh laju digitalisasi. Jimmy Juneanto, Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) mengakui, arus digitalisasi sulit dibendung.

“Kami harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan,” kata Jimmy kepada KONTAN (27/10).

Era digital juga mempengaruhi jasa pengiriman, khususnya yang berbentuk dokumen atau surat. Maklum, konsumen kini cenderung menggunakan jasa pengiriman lewat e-commerce. Artinya, kurir paket surat akan berkurang.

Mohammad Feriadi, Direktur Utama JNE, berujar, pengiriman dokumen dan surat lama kelamaan dipastikan jumlahnya akan terus menurun, digantikan teknologi informasi dan komunikasi.

“Seperti tagihan yang tadinya dikirim melalui jasa pengiriman, sekarang sudah ada di billing,” tuturnya kepada KONTAN, Jumat (27/10).

Feriadi mengakui, jumlah pengiriman surat dan dokumen via JNE sangat sedikit dan cenderung hanya kiriman paket. “Sejak orang banyak menggunakan WhatsApp dan email, maka tren ini juga beralih,” sebutnya.

Setali tiga uang dengan sektor industri tekstil yang menghadapi ancaman semakin minimnya penyerapan lapangan pekerjaan akibat proses produksi secara otomatisasi alias dikendalikan oleh robot cerdas. Meski hal ini bakal terjadi, tapi kasus Indonesia terbilang masih lama.

Alasannya, teknologi industri tekstil dalam negeri masih tertinggal. “Teknologi tekstil di Indonesia belum begitu maju. Investasi teknologinya tidak besar,” aku Executive Assistant Presiden Direktur PT Asia Pacific Fibers Tbk Prama Yudha Amdan.

Sumber: kontan.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here