TEMPO.CO, New York – Ilmuwan Amerika Serikat menerbitkan hasil riset otak manusia yang mungkin bisa membuat Anda terpukau. Dalam jurnal Nature edisi 26 Juli 2017, tim dari Albert Einstein College of Medicine mengungkap bahwa sel-sel  hipotalamus otak mampu mengatur seberapa cepat penuaan terjadi pada tubuh kita.

Hipotalamus adalah bagian otak yang mengatur proses penting tubuh, termasuk pertumbuhan, perkembangan, reproduksi, dan metabolisme tubuh. Studi bertajuk “Hypothalamic stem cells control ageing speed partly through exosomal miRNAs” ini berangkat dari studi yang mereka lakukan sebelumnya pada 2013.

Dalam studi 2013 itu, tim yang dikomandoi Yalin Chang, pakar molekuler farmakologi ini, mengungkap bahwa hipotalamus juga mengatur penuaan di seluruh tubuh. Studi kali ini, tim berusaha menunjukkan sel-sel di hipotalamus, tepatnya sel induk saraf dewasa, berperan dalam membentuk neuron baru.

Dongsheng Cai, penulis utama studi, menjelaskan sel-sel saraf di hipotalamus secara alami menurut dan mempercepat penuaan. “Berita baiknya, penuaan tersebut bisa diperlambat dengan cara mengisi sel induknya dengan molekul neuron baru,” kata dia, seperti dilansir laman berita Science Daily, 26 Juli 2017.

Cai, Chang, dan tim melakukan riset laboratorium terhadap sekelompok tikus. Dari pengamatan terungkap bahwa jumlah sel induk hipotalamus mulai berkurang saat tikus-tikus tersebut berumur 10 bulan atau beberapa bulan sebelum tanda penuaan muncul. Sekadar informasi, tikus sudah disebut tua pada umur 2 tahun.

Tim kemudian secara selektif menyuntikkan neuron baru ke otak tikus paruh baya yang sel induknya mulai hancur dan tikus tua yang sel induknya sudah hilang. Ternyata, penuaan melambat.

Tim menemukan, bahwa sel induk hipotalamus yang disuntikkan ke cairan serebrospinal tikus mengaktifkan efek anti-penuaan mereka dengan melepaskan molekul yang disebut microRNA (miRNA). Molekul miRNA ini berbentuk partikel kecil yang disebut exosom.

Cai menjelaskan, sel induk hipotalamus memang tidak mencegah penuaan. Namun, kata dia, mereka memainkan peran kunci dalam mengatur ekspresi gen. Hasilnya, perubahan daya tahan otot, koordinasi gerak, perilaku sosial, dan kemampuan kognitif tikus kembali membaik.

“Cara ini bisa jadi alternatif untuk menyembuhkan penyakit terkait usia tua dan memperpanjang umur,” kata Cai. “Tapi, tentunya, tidak bisa membuat manusia abadi.”
Sekarang, tim berusaha meneliti populasi microRNA tertentu dan faktor lain yang mungkin berperan atas efek anti-penuaan. “Kami membuka banyak kemungkinan tentang hal lain,” ujar Cai.

NATURE | SCIENCE DAILY | AMRI MAHBUB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here