RAKYAT.NET, Jakarta – Kavya Kopparapu, seorang remaja perempuan asal India menciptakan sebuah aplikasi untuk pemeriksaan dan diagnosis DR sederhana dan murah. Aplikasi ini mampu mendeteksi gejala DR lebih awal sehingga kita bisa mencegah terjadinya kebutaan akibat diabetes melitus atau diabetic retinopathy (DR).

Saat seseorang mengalami DR, pembuluh darah di retina menjadi rusak hingga mengakibatkan kebutaan. Kebutaan seperti ini sebenarnya dapat dicegah. Namun, tidak semua orang memiliki biaya untuk pemeriksaan dan karena keterbatasan staf ahli sehingga banyak orang harus mengalaminya.

“Kurangnya tenaga ahli diagnosis menjadi tantangan terbesar di India. Program pengiriman dokter ke desa-desa dan daerah kumuh masih kurang, pasien banya, namun hanya tersedia sedikit dokter spesialis mata,” kata Kopparapu kepada IEEE Spectrum.

Bersama saudara laki-lakinya Neeyanth dan teman sekelas Justin Zhang, Kopparapu membuat aplikasi untuk memeriksa mata dengan bantuan kecerdasan buatan dan cetakan lensa 3D sederhana. Sistem tersebut dinamakan Eyeagnosis.

 

Eyeagnosis

Kopparapu melatih jaringan saraf tiruan untuk mengenali gambar tampilan DR. Bersama teamnya, mereka mencari jaringan yang sesuai dan memutuskan untuk menggunakan Microsoft ResNet-50.

Jaringan saraf tiruan ini membuat mesin memindai kumpulan data dari 34.000 pemindaian retina dari National Institute of Health (NIH). Selain itu, Kopparapu juga berkonsultasi dengan banyak ahli di bidangnya, termasuk dokter mata, ahli biokimia, ahli kecerdasan buatan, dan ilmuwan saraf.

Untuk memindai retina, Eyeagnosis dibantu lensa cetak 3D sederhana untuk memusatkan cahaya dari lampu kilat telepon pintar. Fungsinya untuk menerangi bagian belakang mata seperti yang dilakukan oleh mesin pencitraan retina yang digunakan untuk mendiagnosa DR selama ini.

Sejauh ini, Eyeagnosis telah diuji coba di Rumah Sakit Mumbai. “Apa yang dia butuhkan adalah banyak data klinis yang menunjukkan bahwa (Eyeagnosis) dapat diandalkan di berbagai situasi: di rumah sakit mata, di pedesaan, dan di klinik-klinik India,” kata dokter mata J. Fielding Hejtmancik dari NIH kepada IEEE Spectrum.

Eyeagnosis telah dipresentasikan di konferensi Artificial Intelligence O’Reilly di New York. Kopparapu juga mempresentasikan temuannya di Tedx Talk dan menyampaikan pidato di acara March for Science di Washington.

Perempuan berusia 16 tahun ini juga merupakan pendiri dan CEO Girls Computing League, sebuah lembaga nirlaba yang menyediakan lokakarya sains dan pengkodean komputer untuk kelompok kurang mampu.

“Dalam karir masa depan saya, saya tidak ingin dikenal sebagai perempuan yang kebetulan adalah ilmuwan komputer, saya ingin dikenal sebagai ilmuwan komputer yang kebetulan adalah seorang perempuan,” katanya pada March for Science.

Sumber: kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here