JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meluncurkan Sistem Informasi Perizinan dan Registrasi Terintegrasi (Sprint) penerbitan obligasi dan sukuk untuk emiten bank. Kebijakan tersebut diambilĀ sebagai upaya mempercepat dan menyederhanakan proses perizinan pasar modal dan perbankan.

Melalui Sprint, proses perizinan penerbitan obligasi dan sukuk untuk emiten bank menjadi lebih singkat. Semula membutuhkan waktu 105 hari menjadi 22 hari kerja.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto menjelaskan, proses perizinan penerbitan obligasi dan sukuk untuk emiten bank telah disederhanakan dan masing-masing terintegrasi dalam sistem perizinan satu pintu.

“Dengan langkah ini OJK dapat memotong waktu proses permohonan secara signifikan namun tetap mempertimbangkan aspek prudensial terhadap permohonan yang diajukan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (20/6/2017).

Menurutnya, sistem ini merupakan upaya konkret OJK dalam menjaga momentum membaiknya kondisi ekonomi nasional dengan membangun mekanisme perizinan penerbitan obligasi dan sukuk bagi emiten bank yang terintegrasi melalui satu pintu.

Sprint ini juga telah ditetapkan sebagai virtual single window bagi industri jasa keuangan dalam melakukan proses perizinan di lingkungan OJK. “Melalui aplikasi Sprint, kami berharap dapat mewujudkan perizinan yang TUNTAS (Transparan, TerpadU, AkuNTabel, CepAt, dan Sederhana),” tambahnya.

Melalui Sprint, selain mengurangi risiko perbedaan kebijakan yang dikeluarkan masing-masing kompartemen, juga mengurangi duplikasi dokumen permohonan yang harus diajukan pemohon.

“Sprint juga dilengkapi dengan fitur tracking sebagai bentuk transparasi proses perizinan,” pungkasnya.

Sumber : sindonews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here