RAKYAT.NET, Jakarta – Pilpres 2019, resmi diikuti oleh dua pasangan Capres Cawapres. Joko Widodo-KH. Ma’ruf Amin sebagai pasangan petahana dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menganalisa, alasan calon presiden Joko Widodo menarik KH Ma’ruf Amin sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) untuk meredakan isu politik identitas. Namun pasangan Jokowi – Ma’ruf dinilai masih belum kuat menggaet pemilih milenial dan pemilih yang fokus pada masalah ekonomi.

“Jokowi menarik Kiai Ma’ruf untuk jadi cawapres itu adalah untuk menyelesaikan isu pertama yaitu populisme berbasis agama. Kalau kita lihat, begitu Ma’ruf terpilih jadi cawapres itu itu tiba-tiba mereda. Tapi problemnya adalah isu yang kedua dan ketiga soal pemilih muda dan ekonomi itu tidak tercermin dalam pasangan Jokowi dan Kiai Ma’ruf,” katanya di Hotel Oria, Jakarta Pusat, Minggu (26/8).

Celah pemilih muda dan isu ekonomi ini dimanfaatkan pasangan Prabowo – Sandiaga. Sehingga yang di bangun Prabowo – Sandiaga pasca pengumuman pasangan capres dan cawapres, selalu mendorong soal pemilih muda milenial dan soal isu ekonomi.

“Jadi Ma’ruf dari pasangan Jokowi ini tidak untuk menambah suara, hanya untuk menahan sehingga tidak terjadi penurunan suara di pemilih Pak Jokowi, akan tetapi posisi Sandi di pasangan Prabowo untuk menarik pemilih baru, di kalangan pemilih muda. Makanya kita bisa lihat Sandi seringkali dalam beberapa waktu terakhir itu selalu menonjolkan simbol-simbol milenial,” katanya.

Isu ekonomi terus didorong kubu penantang capres petahana. Sebab, jika melihat survei Alvara sebelumnya, ekonomi merupakan salah satu isu titik lemah jokowi. Semisal soal tenaga kerja, stabilitas harga.

“Soal ekonomi itu menjadi PR kinerja Jokowi,” kata Hasanuddin.

Hasanuddin menganalisa, Prabowo tengah mendorong posisi Sandiaga sebagai penarik perhatian dan pendulang suara.

“Makanya kalau kita lihat dalam beberapa hari terakhir kalau temen-temen amati yang paling sering tampil di publik adalah cenderung Sandi dibanding Prabowo. Beda halnya dengan pasangan Jokowi dan Kiai Ma’ruf ini karena Ma’ruf lebih untuk menahan serangan maka tentu yang di garis depannya adalah tetap Jokowi dibanding Kiai Ma’ruf,” tambahnya.

Sumber: merdeka.com