RAKYAT.NET, Jakarta – Pandangan tentang masa depan Indonesia banyak menjadi pertanyaan besar dan sangat menarik untuk diperbincangkan. Ada yang berpendapat super optimis bahwa Indonesia akan menjadi negara super power di masa depan namun banyak pihak yang pesimis akan perjalanan bangsa yang tak kunjung tiba kepada cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur.

Beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengenai prediksi Indonesia bubar di tahun 2030. Berbagai diskusi dan perbincangan dilakukan dimana-mana menanggapi pendapat tersebut. Ada pro dan ada kontra.

Pernyataan Prabowo tak sedikit menuai kritik lawan politik. Mereka merasa bahwa ucapan itu tidak mendasar. Apalagi hanya menyadur dari novel fiksi. Bagi Gerindra, pidato itu seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah mengenai keadaan negara selama ini.

Novel fiksi menjadi referensi Prabowo berjudul ‘Ghost Fleet’ karangan P.W Singerdan dan August Cole. Bercerita tentang konflik Amerika dan China. Para penulis buku ini diketahui bukan orang sembarangan. Mereka diketahui berprofesi sebagai ahli hubungan internasional hingga intelijen.

“Beliau (Prabowo) ingin mengingatkan kepada kita semua, ‘kedaulatan bangsa ini mahal loh harganya’. Jangan sampai hal-hal yang dinilai kecil seperti sekarang dianggap biasa, yang ujungnya nanti kita kaget. Itu sebenarnya yang menjadi pesan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sugiono.

Sebagai sosok kerap mendampingi Prabowo di setiap kegiatan, Sugiono menyebut kemampuan para penulis novel fiksi itu tidak sembarangan. Banyak kajian dan perhitungan telah mereka lakukan. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa prediksi itu bisa terjadi.

Apalagi, lanjut Sugiono, bila menengok kondisi perekonomian di Indonesia saat ini tengah melemah. Untuk itu, diharapkan dengan pernyataan Prabowo membuat pemerintah dan masyarakat paham bahwa kondisi Indonesia berpotensi mengalami kehancuran di masa depan bila tidak segera melakukan pembenahan.

Kondisi perekonomian Tanah Air bukan hanya melemah. Menurut Sugiono, itu juga diperparah adanya sektor penting hingga kekayaan alam dalam penguasaan asing. Bahkan pihaknya melihat kekuatan pertahanan Indonesia juga dalam keadaan memprihatinkan.

“Itu jangan sampailah itu terjadi. Melihat keadaannya, bukan tidak mungkin. Makanya jangan sampai (terjadi Indonesia bubar),” ujar Sugiono. “Kan ini beliau mengingatkan kepada kita semua pada dasarnya kan itu. Jangan sampai ada analisa-analisa yang menyatakan hal itu bakal terjadi,” tambahnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi Sapto Prabowo, sehari sebelumnya mempertanyakan isi pidato politik Ketua Umum Partai Gerindra mengenai Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Pihak Istana Negara merasa perlu ada kajian ilmiah dalam prediksi disampaikan..

“Kalau Pak Prabowo menyatakan 2030 Indonesia bubar itu dasarnya apa? Itu perlu ditanya juga kan harus ada kajian ilmiah, analisis,” kata Johan.

Padahal, Johan menjelaskan, pemerintah saat ini gencar mendorong Indonesia menuju tahun emas 2045. Pemerintah juga sudah bisa mengubah peringkat kemudahan investasi dari sebelumnya berada pada angka 91 menjadi 72. Ini menunjukkan Indonesia memiliki harapan baik di masa mendatang bukan sebaliknya. “Ini kan parameter menuju negara lebih baik kan, bukan sebaliknya. Bahwa ada kemudian yang punya pendapat silakan ditanya ke yang berpendapat 2030 itu negara bubar,” katanya.

Prabowo sudah menegaskan bahwa pernyataan pidato politiknya bukan untuk menunjukkan bahwa partainya anti asing. Pihaknya hanya tak rela jika Indonesia dengan kekayaan alam rayanya dirampas pihak asing.
.
“Saya tidak anti, kita tidak anti asing, kita mau bersahabat asing, tapi kita tidak mau dirampok, tidak mau dipecundangi asing. Kita mau bersahabat, bermitra. Kalo bangsa lain boleh makmur, kenapa orang Indonesia gak boleh makmur,” tegas Prabowo saat ditemui di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, kemarin.

Mantan Danjen Kopassus memaparkan, hal seperti itu merupakan kewajiban. Rakyat Indonesia tidak boleh bodoh dan tetap mempertahankan kehormatan bangsa. “Ini kewajiban kita, kewajiban saya, sebagai pemimpin saya harus bicara. Jadi bukan kita anti asing, kita mau bersahabat sama asing, kita butuh asing. Tapi kita jangan terlalu lugu, jangan kita biarkan kekayaan kita diambil dan elit kita diem, santai aja gitu loh,” katanya.

Sumber: merdeka.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here