JAKARTA, KOMPAS.com – Di Wonosobo, Jawa Tengah, melepaskanbalon udara menjelang dan saat Hari Raya Idul Fitri merupakan tradisi tahunan Masyarakat. Sayangnya, tradisi itu punya potensi bahaya mengganggu suplai listrik yang ada.

General Manajer PLN Transmisi Jawa Bagian Tengah, Edwin Nugraha Putra mengatakan bahwa bahaya yang ditimbulkan dari balon udarayang bisa terbang hingga ketinggian 40.000 kaki atau 12.000 meter tersebut adalah tersangkut di Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) milik PLN.

Selama ini, kata Edwin, kasus tersangkutnya balon udara di SUTT sering terjadi. Karenanya, PLN berharap kejadian seperti itu tidak terulang kembali.

“Apalagi mengingat pemerintah daerah setempat juga yang sudah mengeluarkan surat larangan untuk melepaskan balon udara tersebut,” kata Edwin dalam keterangannya, Rabu (28/6/2017).

Terbaru, ia mencontohkan, adanya balon udara yang kembali tersangkut di jaringan transmisi Wonosobo – Secang. Meski kejadian ini tidak menyebabkan pemadaman di pelanggan, namun jaringan transmisi harus dipadamkan.

PLN pun gerak cepat dengan menerjunkan Regu pemeliharaan Base Camp Salatiga. Sesaat setelah kejadian, Tim pemeliharaan di base camp langsung menuju lokasi. Penurunan balon tersebut membutuhkan waktu selama 3 jam,” kata dia.

Sebelumnya, dua buah balon udara yang tersangkut di SUTT menyebabkan gangguan pada SUTT di transmisi Wonosobo-Merica. Akibatnya, 3 Gardu Induk (GI), yakni GI Wonosobo, Garung, dan Dieng serta beberapa pelanggan mengalami pemadaman sebesar 30 MW.

Untuk mengatasi gangguan tersebut, PLN telah menerjunkan tim. Proses pemulihan ini berlangsung kurang lebih 3,5 sampai dengan 5 jam bergantung lokasi dan beratnya medan yang ditempuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here