RAKYAT.NET, Jakarta – Banyak pihak menilai Pilpres 2019 adalah pertarungan ulang Pilpres 2014 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Namun misteri siapa wakil presiden pendamping mereka menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A Budiyono menilai, rematch 2014 terjadi karena peluang munculnya poros ketiga semakin kecil, terutama jika gugatan pasal 222 di UU Pemilu tentang ambang batas capres 20 persen kalah di MK. Selain itu tidak adanya nama kuat selevel Jokowi dan Prabowo mengakibatkan banyak parpol cenderung bermain aman agar tidak kalah.

Dosen FISIP Universitas Al Azhar Indonesia ini mengatakan, pertarungan sengit justru terjadi di posisi Cawapres. Dimana hingga kini sejumlah nama terus dibahas para elite kedua kubu.

“Salah satu nama yang disinyalir memiliki peluang, salah satunya Gatot Nurmantyo. Namanya kerap di posisi tiga besar tiga Capres, atau (merujuk sejumlah survei) berada di peringkat satu kalau untuk Cawapres Jokowi. Meski demikian, langkah Gatot tidak mudah,” kata Zaenal.

Dia menjelaskan, di internal Jokowi untuk nama-nama profesional, selain Gatot masih ada nama Moeldoko, Mahfud MD, Susi Pudjiastuti atau Sri Mulyani. Keempatnya bukan nama sembarangan, karena memiliki rekam jejak mentereng.

Moeldoko adalah mantan panglima TNI, dan sekarang ketua Kantor Staf Presiden (KSP). Mahfud MD memiliki pengalaman di birokrasi, selain akademisi. Susi dikenal sebagai menteri berprestasi, sementara Sri Mulyani terakhir meraih gelar sebagai menteri keuangan terbaik di dunia.

“Kedua, selain nama-nama dari internal Jokowi, koalisi parpol pendukung juga menyuguhkan nama-nama kuat. Mulai dari Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy hingga Airlangga Hartarto. Bila pertimbangannya untuk perimbangan kekuatan politik dan memperkuat elektabilitas, Jokowi cenderung akan memilih calon dari parpol yang sudah memiliki basis,” tambahnya.

Lalu bagaimana dengan kandidat Cawapres di kubu Prabowo Subianto?

Zaenal menilai, sulit membayangkan jika Prabowo duet dengan Gatot Nurmantyo. Karena keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu militer. Pengalaman 2014, Prabowo yang berpasangan dengan sipil (Hatta Rajasa) justru hanya kalah tipis dari JokowiJK.

Mempertahankan momentum 2014 menjadi penting bagi Prabowo, dan dalam upaya ke sana, kata Zaenal, Prabowo membutuhkan sosok sipil yang mumpuni.

Partner Gerindra, PKS sendiri sejauh ini belum secara terang mendorong Gatot. Mereka lebih fokus mendukung sembilan nama dari internal PKS yang juga untuk kepentingan Pileg mendatang.

“Satu-satunya peluang adalah mengharapkan poros ketiga mencalonkan Gatot sebagai Capres. Tapi sekali lagi peluangnya sangat kecil, karena Demokrat juga memiliki calon tak kalah menarik pada diri AHY,” tutupnya.

Sumber: merdeka.com