Jakarta – Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen, menyatakan harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditas gula saat ini sebesar Rp 12.500 per kilogram (kg) dinilai cukup memberatkan para petani gula tebu.

Dirinya menjelaskan, saat ini kondisi kadar gula di dalam batang tebu (rendemen) kurang dari 7%. Dengan keadaan tersebut, kata Soemitro, maka seharusnya Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk gula sebesar Rp 11.700/kg dan HET sebesar Rp 15.000/kg.

“Kalau sekarang HET Rp 12.500/kg ya memberatkan. Mendag enggak mau dengar kami, ada pedagang jual Rp 13.000/kg langsung kirim Satgas (Pangan). Padahal ini kan masih murah enggak memberatkan,” kata Soemitro di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Kamis (12/7/2017).

Dirinya menjelaskan, angka HET sebesar Rp 12.500/kg tersebut dapat digunakan apabila rendemen dalam tebu berada di kisaran 10%.

Sementara itu produktivitas tanaman tebu dalam setahun saat ini berada di bawah 80 ton per hektare. Dengan rendemen tebu saat ini masih di bawah 7 persen, maka biaya produksi sebesar Rp 9.500-10.500 per kilogram.

“Padahal kami idealnya bisa untung kalau produktivitas juga sebesar 100 ton per hektar dalam setahun dan rendemen bisa 10%,” jelasnya.

Sementara itu Sekjen APTRI, Nur Khabsyin, juga meminta kepada Menteri Perdagangan untuk dapat merevisi nilai HET yang ditetapkan untuk komoditas gula.
“APTRI akan meminta kepada Menteri Perdagangan untuk merevisi aturan harga acuan tertinggi (HET). Karena harga itu tidak ada komponen PPN,” katanya.

(mkj/mkj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here