RAKYAT.NET, Jakarta – Tarik ulur penjajakan koalisi dilakukan oleh semua partai politik peserta Pileg 2019 guna persiapan Pilpres 2019. Pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand) Padang Edi Indrizal menilai keputusan Partai Demokrat untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra merupakan pilihan terakhir yang diambil oleh ketua umum partai tersebut Susilo Bambang Yudhoyono.

SBY melihat upaya untuk mendapatkan pengaruh dan posisi yang kuat juga tidak gampang karena ada kekuatan non-parpol alumni 212. “Bagaimanapun juga tampaknya tidak ada pilihan lain kecuali Demokrat harus bergabung dan ini bukan lagi soal kesesuaian,” katanya.

Ia menilai keputusan ini diambil agar Demokrat tidak ketinggalan kereta dan semakin sulit di 2024 sebagai salah satu pertimbangan. Terkait SBY mengajukan putra sulungnya Agus Harimurti Yudhoyono untuk cawapres, ia melihat hal ini penting bagi Demokrat.

Namun, ia menambahkan, bagi calon mitra partai politik, bakal sulit untuk memenuhinya. “Misalnya bagi Gerindra juga jadi tidak mudah untuk bisa mendapatkan persetujuan mitra terutama PKS, apalagi selama ini hubungan Gerindra dan PKS sudah terjalin lebih panjang dan dalam,” tambahnya.

Ia berpendapat capres cawapres tetap saja belum final kecuali jika tidak memerlukan koalisi lagi dengan PKS dan PAN. “Jika dipaksakan juga maka Prabowo dan Gerindra merugi,” katanya.

Sumber: republika.co.id