RMOL. Indonesia seharusnya sudah bisa mengantisipasi kelangkaan stok komoditas pangan, seperti garam.

“Kita kan mestinya dari sejak 10 atau 20 tahun yang lalu sudah bisa mengantisipasi (stok garam),  (dilihat dari) perkembangan penduduk, sehingga bisa dihitung berapa kebutuhannya dari tahun ke tahun,” kata pengamat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar kepada redaksi, Senin (7/8).

Wakil Rektor bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis IPB ini menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir kapasitas produksi garam nasional hampir tidak ada penambahan yang siginifikan.

“Dari situ aja sebetulnya sudah merupakan indikasi, mestinya dilakukan pembinaan petani garam ya oleh kementerian yang langsung terkait ya kementerian perikanan dan kelautan dong, karena turunannya ada disitu (KKP),” ujar Hermanto.

Kemudian program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar) juga disorotinya belum efektif. Ia menilai, Pugar seperti wacana proyek saja, bukan sesuatu yang betul-betul disiapkan seperti keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruktur.

“Saya kira belum efektif ya (Program Pugar), baru kaya proyek saja gitu, bukan sesuatu yang istilahnya betul-betul disiapkan seperti halnya pemerintah sekarang serius bangun infrastruktur,” kata Hermanto.

Ia mengatakan, sulit diterima nalar jika kelangkaan garam karena adanya permainan mafia atau kartel. Sebab, kalau produksi garam banyak dan mencukupi maka praktik kartel tidak akan efektif.

“Jadi mau dia mafia atau dia kartel ya, kalaupun ada, kalau memang produksi kita banyak dan mencukupi mana efektif dia melakukan kartel, kartel atau mafia itu efektif untuk beroperasi jadi sekali untung berlipat ganda itu, kalau emang ada keterbatasan produksi.Kalau barangnya banyak, petani garam kita itu efektif untuk menghasilkan garam banyak, gak akan ada yang mau (melakukan) kartel,” jelasnya.

Solusi terbaik yang harus dilakukan, tegas dia, yakni memang harus meningkatkan basis produksi garam, membina para petaninyna agar mampu bertani dengan baik, selain itu dukungan teknologi juga menjadi hal yang penting.

“Jangan malah ia (petani garam) jadi terkonversi ya, ladang garamnya itu malah menyusut dan dipakai untuk yang lain-lain. Jadi jangan kaya kebakaran jenggot lah, setiap ada masalah ribut,” pungkas Hermanto.

[wid]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here