ABIDJAN – Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi menuturkan, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan seluruh anggotanya memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan nilai perdamaian dan toleransi sebagai bagian dari ajaran Islam kepada anak muda. Hal itu disampaikan Retno saat berbicara di Konferensi Tingkat Menteri ke-44 OKI di Abidjan, Pantai Gading

“Anggota OKI memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan generasi muda Islam mengerti pentingnya perdamaian, stabilitas dan peran dialog dalam menyelesaikan perbedaan,” kata Retno, seperti tertuang dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri Indonesia yang diterima Sindonews pada Selasa (11/7).

Retno kemudian menyampaikan, generasi muda, yang merupakan usia mayoritas di negara-negara Islam, memainkan peran penting dalam membangun dunia Islam yang lebih baik. Dalam kaitan ini, OKI memiliki tanggung jawab untuk tidak saja menanamkan moral, etika serta nilai-nilai  toleransi dan budaya damai, namun juga menciptakan kondisi kondusif bagi generasi muda Islam untuk berkembang.

Lebih lanjut dia mendorong agar generasi muda Islam di seluruh dunia bersatu dengan selalu mengedepankan semangat Ukhkuwah Islamiyah. Retno menyampaikan kesedihan melihat berbagai konflik diantara negara Islam saat ini.

Konflik diantara negara OKI hanya menguntungan pihak pihak yang tidak ingin melihat dunia Islam bersatu dan maju. Oleh karena itu, Menlu RI mengajak negara-negara OKI untuk meningkatkan rasa persaudaraan, menyatukan energi guna meningkatkan kerja sama, khususnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Dia juga menekankan pentingnya untuk negara-negara OKI membangun dan perkuat kebiasaan dialog dalam menyelesaikan perbedaan dan konflik. “Indonesia telah dan akan terus membangun kondisi yang kondusif agar terciptanya dialog untuk menjamin perdamaian dan stabilitas di dunia, khususnya di negara-negara Islam,” jelasnya.

Retno juga menekankan, banyak generasi muda Islam yang terjerat dan menjadi korban ideologi terorisme, radikalisme dan ekstremisme. Kejadian di Marawi, Filipina harus menjadi wake up call bagi negara-negara OKI, bahwa telah terjadi regionalisasi terorisme, yang banyak melibatkan generasi muda termasuk perempuan yang terlibat menjadi teroris dan Foreign Terorist Fighters (FTF).

Dia mengajak negara OKI meningkatkan upaya kolektif dalam penanggulangan terorisme, utamanya dengan mengatasi akar masalah dan melakukan kontra narasi terhadap ideologi radikal.

“Memperkuat kerja sama antara negara OKI menjadi mandatory dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme, khususnya dalam mencegah terjerumusnya pemuda Islam,” sebut Retno.

Dia menambahkan betapa pentingnya pendidikan yang baik bagi generasi muda dan untuk menempatkan kaum muda sebagai bagian utama dari pembangunan. Negara-negara anggota OKI perlu merancang pendidikan yang menanamkan nilai toleransi, menghormati satu sama lain, dan perdamaian semenjak dini.

(esn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here