Makin banyak tempat makan steak ditemui di kota-kota besar. Hal ini tentu saja menjadi berkah buat mereka yang getol makan daging.

Vinny Amelia, misalnya. Dalam sebulan, sudah pasti sekali atau dua kali ia menyempatkan mampir ke tempat makan steak yang merupakan makanan favoritnya itu.

Lebih sering dari tahun-tahun sebelumnya, akunya. Apalagi, dirinya kini sudah bekerja. Walaupun untuk urusan harga, makanan ini belum bisa dibilang murah.

“Aku menganggapnya sebagai momen untuk me time. Jadi, urusan harga sih nomor dua, tapi ini lebih sebagai momen untuk santai dan menyediakan waktu untuk diri sendiri. Salah satunya dengan makan steak atau sushi,” ujar Vinny.

Tetapi, tahukah anda untuk membeli 1 kilogram daging sapi masyarakat Indonesia harus bekerja lebih dari 20 jam? Sementara itu, hanya diperlukan 7,3 jam bekerja untuk mendapatkan 1 kg daging ayam.

Riset paling baru menunjukan bahwa harga daging di Indonesia paling tidak terjangkau dibandingkan negara lain. Jika dibandingkan dengan harga rata-rata global, harga daging sapi dan ikan di Asia Tenggara memang lebih murah.

Tetapi jika dihitung-hitung dengan upah minimum, penduduk di negara-negara itu -terutama Indonesia- harus bekerja berjam-jam untuk mendapatkan uang yang lebih banyak untuk mengkonsumsi daging dan ikan.

Konsumsi daging paling rendah

Intinya, meski harganya lebih murah dibanding dengan harga rata-rata global, daging masih di luar jangkauan upah minimum.

Makanya, konsumsi daging sapi oleh masyarakat Indonesia sangat kecil, hanya 2,31 kilogram per kapita per tahun pada tahun lalu, berdasar data Badan Pusat Statistik.

Dibanding beberapa negara tetangga, Indonesia masih tertinggal dalam hal konsumsi daging. Malaysia mengkonsumsi 8.5 kg daging sapi per kapita per tahun, sementara Vietnam 8.9 kg, dan Filipina 3 kg per tahun.

Negara-negara di belahan Amerika Selatan mendominasi konsumsi daging dengan Uruguay paling banyak, diikuti oleh Argentina, Paraguay dan Brasil. Dua negara pertama mengkonsumsi daging sapi lebih dari 40 kg per kapita per tahun.

Lalu mengapa harga daging di Indonesia susah dijangkau?

Di Indonesia, masing-masing provinsi memiliki upah minimum bervariasi, upah minimum tertinggi di ibu kota Jakarta, sebesar Rp 3.335.700, sementara yang terendah di Provinsi DIY sebesar Rp 1.337.645.

Artinya, orang-orang di kota besar yang nota bene didominasi kelas menengah sudah pasti lebih mudah untuk membeli daging ketimbang orang-orang di daerah yang lebih terpencil.

Bisa dilihat, konsumsi daging justru lebih banyak dinikmati oleh warga di perkotaan.

Rantai tata niaga panjang

Lalu apa yang salah dengan harga daging sapi kita?

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Importir Daging Sapi Thomas Sembiring, sebagian besar kebutuhan daging sebetulnya bisa dipasok dari dalam negeri, tapi biaya produksi di peternakan lokal tinggi karena sistem pemeliharaan mereka berskala kecil.

Selain biaya produksi tinggi, banyaknya perantara membuat harga akhir di konsumen semakin mahal.

“Rantai tata niaganya juga lebih panjang. Kalau di sini kan importir langsung ke distributor langsung ke pedagang dan pengecer. Kalau di lokal kan mungkin rantai tata niaganya cukup panjang.”

Biaya produksi di peternakan sapi lokal tinggi karena sistem pemeliharaan mereka berskala kecil.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas menambahkan, saat ini harga dibiarkan berjalan sebagaimana mekanisme pasar.

“Bahkan pemerintah malah cenderung menurunkan harga melalui impor daging kerbau dan [harga] daging beku yang ditetapkan Rp 80.000 per kg di retail-retail. Itu kan upaya pemerintah untuk menurunkan harga, tapi kan tidak berhasil sama sekali,” jelasnya.

Solusi yang bisa dilakukan, lanjutnya, adalah memperbaiki sektor hulu peternakan sapi dengan memperbaiki bisnis peternak lokal.

“Sektor hulu harus dibenahi, di peternak rakyat. Pemerintah harus betul-betul support sepenuhnya peternak rakyat sehingga perlahan-lahan populasi sapi meningkat. Kalau perlahan-lahan populasi meningkat, otomatis kemungkinan harga bisa tertekan kebawah.”

Sumber: bbc.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here