Pertanyaan seputar pengasuhan selalu menjadi teka-teki bagi para orang tua. Semua orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang positif.

Namun, pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dalam psikologi perkembangan yang sangat minim membuat kualitas pengasuhan anak menjadi kurang optimal. Karena itu, setiap orang tua hendaknya menyerap sari ilmu psikologi yang bisa diaplikasikan dengan mudah. Setiap harinya para orang tua sering disergap perasaan negatif terhadap anak.

Ketika anak rewel, menangis, marah, dan melawan keinginan orang tua, respons yang sering diberikan kepada anak adalah dengan mencubit, membentak, bahkan mengancam anak. Awalnya, niat orang tua adalah mendidik anak agar dapat mengontrol emosi. Tetapi, teknik seperti itu justru akan membentuk kepribadian yang negatif pada anak.

Kemampuan hati untuk arif dalam mendidik anak tidak muncul begitu saja. Pengetahuan yang benar akan menuntun orang tua untuk memberikan respons yang tepat kepada anak. Anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang positif jika diasuh oleh orang tua yang peka terhadap kebutuhan psikologis anak.

Selain itu, pola komunikasi yang dikembangkan oleh orang tua pun harus sesuai perkembangan kemampuan berbahasa si kecil. Jangan sekali-kali meminta anak yang berusia 2-3 tahun untuk membereskan hasil lemparannya sendiri, karena ia akan bingung. Sebaliknya, ajak anak sambil mengatakan, “Sayang, yuk kita cari cokelat warna merah yang tadi kamu lempar.

Buang ke tempat sampah supaya enggak dimakan semut ya.” Atau, “Yuk, kita cari balok yang tadi kamu lempar, kemudian kita taruh di tempat atau ke kotaknya.” Dengan teknik dialog positif, orang tua dapat memfasilitasi anak sesuai dengan tahapan perkembangan (halaman 13-14).

Masalah seputar pengasuhan tidak hanya bersumber pada perilaku anak. Bahkan, perilaku orang tua yang memberi dosis cinta kasih terlalu secara tidak sadar membuat anak-anak menjadi manja dan tidak disiplin. Dalam hal ini, orang tua juga harus mampu bersikap tegas pada anak. Ada kalanya, orang tua pun harus melarang keinginan anak. Hal ini penting sebagai pembelajaran emosi bagi anak.

Ketika anak ingin melakukan sesuatu yang kurang baik atau justru berbahaya, sudah sepatutnya orang tua melarang anak. Biasanya, cara yang digunakan adalah dengan mengatakan kata ”tidak” atau ”jangan”. Namun, jadi masalah jika orang tua terlalu sering menggunakan kedua kata itu.

Salah satunya, anak juga akan sering mengucapkan kata yang sama. Tentunya hal ini sangat tidak baik bagi masa depannya. Salah satu cara terbaik untuk mengatakan ”tidak” pada anak adalah dengan cara mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang lebih menarik. Anak memiliki memori jangka pendek sehingga mereka akan mudah melupakan sesuatu yang sebelumnya dia lakukan jika ada aktivitas yang lebih menarik.

Yang harus dihindari adalah jangan sekali-kali melarang anak dengan menyogok. Misalnya, “Kalau Adik tidak menonton televisi terus, nanti ibu belikan mainan.” Akibat dari kebiasaan yang tampak sederhana ini adalah anak akan melanggar peraturan bila ibu tidak ada di rumah. Untuk itu, lebih baik katakan, “Nonton televisi cukup satu jam ya! Jika terlalu lama, mata Adik bisa rusak dan adik jadi lupa main di luar.”

Walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama, namun cara ini akan lebih efektif dan menumbuhkan kesadaran anak (halaman 21-22). Kiat-kiat sederhana dalam mendidik anak tidak banyak diketahui para orang tua. Padahal, bermula dari kebiasaan sederhana, orang tua dapat membentuk kepribadian anak. Kebiasaan yang tepat dalam mendidik anak akan memberikan buah manis dalam prestasi pengasuhan.

Sebaliknya, satu kesalahan kecil akan melukiskan karakter negatif dalam diri anak. Berangkat dari masalahmasalah umum orang tua dalam mendidik anak, buku ini menawarkan solusi mudah dan sederhana. Anggapan bahwa mengasuh anak itu sulit dan merepotkan pun ditangkis oleh Bunda Novi. Terdapat pembahasan masalah yang diulas secara ringkas, aplikatif, dan tepat sasaran.

Pembahasan tersebut antara lain tentang karakter anak, interaksi anak dengan sekolah, adaptasi anak terhadap perubahan, upaya mengasah kemampuan anak, dan pendidikan seks. Kunci jawaban seputar pengasuhan tersebut dapat menjadi panduan bagi orang tua dalam mengasuh buah hati sejak usia dini hingga menjelang usia remaja awal (12 tahun).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here