Liputan6.com, Jakarta Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dahkiri mengatakan di era digital saat ini, perkembangan teknologi informasi adalah sebuah keniscayaan. Jangan dihindari. Sebaliknya, seluruh elemen harus mengambil kesempatan, karena perkembangan teknologi akan menciptakan peluang kerja baru.

“Kita harus mengambil manfaat untuk kepentingan bersama. Pelaku industri teknologi harus bekerja sama meningkatkan daya saing Indonesia, baik daya saing industri maupun tenaga kerjasamanya, ” ujar Menteri Hanif saat memberikan sambutan pada acara IBM Watson Indonesia Summit 2017 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa malam, 1 Agustus 2017.

Indonesia dengan penduduk usia kerja (15 tahun keatas) mencapai 190,59 juta orang (131,54 juta diantaranya aktif di pasar kerja), merupakan pasar yang besar untuk sektor teknologi dan informasi.

Merujuk hasil survei penetrasi dan perilaku pengguna internet Indonesia yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APII) pada tahun 2016, jumlah penduduk Indonesia umur 10 tahun ke atas yang menjadi pengguna internet mencapai 132,7 juta orang.

Mereka terdiri atas usia 10-24 tahun mencapai 75,5 persen, usia 24-34 tahun mencapai 75,8 persen dan 54,7 persen pada usia 35-44 tahun, usia 45-54 tahun 17,2 persen. Sementara usia 55 tahun ke atas hanya sebesar 2 persen.

“Dengan kondisi demikian, investasi di sektor teknologi informasi sangat menjanjikan, ” tegas Menaker.

Menariknya, ada kelonggaran syarat pendidikan dalam pekerjaan di bidang teknologi informasi. Pekerja pada bidang ini tidak selalu harus berpendidikan tinggi, tetapi telah terbukti dapat dilakukan oleh pekerja yang terlatih sekalipun berpendidikan rendah.

Bahkan di Amerika Serikat sekalipun, pekerja di bidang teknologi informasi sudah mulai tidak lagi mensyaratkan secara ketat lulusan perguruan tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Hanif memberikan apresiasi yang tinggi kepada IBM (Watson Bedriffs Machine Java NV) yang telah berkarya sejak 1937 dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan teknologi informasi di Indonesia selama 80 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here