Merdeka.com, Jawa TengahMenjadi pelatih tari telah dipilih Anastasya Yogi Tunjungsari. Namun tidak seperti wajarnya, dia memilih menjadi pelatih tari para penyandang disabilitas.

Dengan Sanggar Tari Kridha Wening di Rumah D, Jalan MT Haryono No. 226 Semarang, Ogi, panggilan akrabnya, dengan telaten mengajari penyandang disabilitas tuna rungu tari-tari tradisi.

Meski memiliki keterbatasan fisik, Ogi menjelaskan bahwa mereka memiliki minat yang cukup tinggi terhadap tarian, bahkan kemampuannya tak kalah dengan anak-anak lain.

Mengajar tari ke anak tuna rungu, menurut Ogi tidaklah sulit. Bahkan Ogi menyebut mereka memiliki fokus lebih baik.

“Mereka itu kan kurang pedengaran, jadi ketika saya latih mereka betul-betul fokus melihat saya. Karena mereka menyadari, bahwa mereka harus memperhatikan betul karena tidak bisa mendengarkan dengan baik,” ujarnya.

Suasana latihan Sanggar Tari Kridha Wening.
© 2017 jateng.merdeka.com/Dian Ade Permana

Sarjana lulusan Universitas Gajah Mada ini menegaskan melatih anak-anak tuna rungu memiliki tantangan tersendiri. Sejak kuliah dia mengaku memang memiliki keinginan melatih tari anak-anak berkebutuhan khusus.

“Akhirnya saya mendirikan Sanggar Kridha Wening pada 9 Juli 2017. Sebelumnya, mengajar di Sekolah Luar Biasa di Jalan Supriyadi,” kata dia.

Para disabilitas yang belajar dan berlatih nari di Sanggar Kridha Wening tidak dipungut biaya apapun. “Saya hanya berpesan agar mereka disiplin, tepat waktu latihan setiap pukul 10.00 WIB agar tak ketinggalan materi,” jelas perempuan yang juga bekerja di salah satu bank swasta ini.

Dia berharap agar orangtua siswa juga memberi semangat dan dukungan moril agar konsisten berlatih tari. Saat ini, Ogi memiliki enam siswa tuna rungu dan seorang tuna grahita. Latar belakangnya pun beragam.

“Yang dari Ungaran sudah bekerja, sementara yang dari Krapyak masih sekolah,” terangnya.

Dia tidak pernah melakukan promosi karena tempat latihannya tidak terlalu luas sehingga khawatir tak mampu menampung siswa kala latihan.

“Tidak sulit melatih mereka, karena insting dan fokusnya sangat bagus. Beda dengan anak yang memiliki pendengaran baik, cenderung meremehkan karena merasa bisa menyesuaikan tempo musik,” papar Ogi.

Dia bertekad untuk mengajari anak-anak tuna rungu sampai mereka mampu bergerak sendiri tanpa harus dibantu dengan peraga darinya. Umumnya, anak tuna rungu saat pentas tari akan dibantu oleh gurunya di depan panggung yang ikut menari.

Laporan: Dian Ade Permana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here