RAKYAT.NET, Jakarta – Maraknya kasus intimidasi, kekerasa, persekusi terhadap jurnalis yang tidak terselesaikan, membuat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mempertanyakan penanganan kasus tersebut oleh aparat hukum.

Menanggapi hal tersebut, Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani Ari menilai lamanya penyelesaian kasus tersebut sama saja mencederai amanat demokrasi tentang kegiatan jurnalis yang dilindungi oleh hukum.

Bahkan, Asnil menyindir dengan wacana jurnalis yang sedang meliput dengan mengenakan pakaian siap tempur.

Cederai demokrasi. Ketika kita mendapat pressure seperti ini, kita tidak bisa menjalankan peran. Besok kita liputan pakai rompi baja, sama helm baja. Kalau liputan seperti itu kita sudah siap tempur. Reporter pada saat liputan pasti paling depan menghadapi masa-masa ini,” kata Asnil di kantor AJI Jakarta, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (3/3/2019).

Lebih lanjut, Asnil mengatakan bahwa sikap aparat hukum harus tegas dalam menuntaskan kasus-kasus yang mengintimidasi jurnalis dalam melaksanakan kegiatan jurnalistiknya.

“Hal tersebut dilaksanakan dengan tegas agar tidak terulang hal yang sama. Sidik pelakunya sampai benar-benar tertangkap dan tegakkan UU Pers. Agar teman-teman bisa kembali percaya diri mengawal liputan,” ungkapnya.

Dalam melaksanakan kegiatan peliputan, jurnalis dilindungi oleh UU Pers. Bagi siapapun yang menghalangi tugas jurnalis hingga bertindak intimidasi dapat dijerat pasal pidana yang merujuk pada KUHP, serta Pasal 18 UU Pers dengan ancaman dua tahun penjara atau denda Rp 500 Juta.

 

Sumber : Timesindonesia.co.id