VIVA.co.id – Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan industri manufaktur mikro dan kecil pada kuartal kedua tahun ini berada di kisaran 2,5 persen. Angka tersebut, anjlok secara signifikan dibandingkan pertumbuhan industri manufaktur mikro dan kecil pada kuartal pertama tahun ini yang mencapai 6,63 persen.

Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers mengungkapkan, kurangnya keberpihakan terhadap pelaku industri mikro kecil menjadi salah satu alasan sektor tersebut merosot pada kuartal kedua. Apalagi, pelaku usaha di sektor ini biasanya tidak memiliki cukup modal yang kuat untuk terus eksis.

“Harusnya keberpihakan kita ke sana, karena dia perusahaan kecil yang perlu dibantu. Perlu diketahui, perusahaan industri mikro kecil buka tutupnya gampang sekali,” kata Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto, Jakarta, Selasa 1 Agustus 2017.

Minimnya modal yang digelontorkan, membuat strategi pemasaran perusahaan mikro dan kecil terbatas. Sehingga, pada akhirnya, para perusahaan yang memiliki produk menarik, tidak mampu memaksimalkan potensinya karena keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri.

“Kalau dia pemasarannya tradisional, sedangkan yang lain online. Permodalan perlu dibantu. Biasanya mereka sudah bagus,” katanya.

Dengan melihat berbagai potensi perusahaan industri mikro dan kecil, Kecuk mengakui, pertumbuhan sektor tersebut selama kuartal kedua lebih kecil dari yang dibayangkan. Apalagi, pada kuartal pertama tahun ini pertumbuhan sektor tersebut secara year on year mampu tumbuh 6,63 persen.

“Ini agak tidak biasa. Ini termasuk kecil. Ini kecil banget,” tegas Kecuk.

 

(asp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here