RESKEU.ORG, Jakarta – Pertumbuhan kredit konstruksi properti yang tinggi di tahun lalu tanda-tanda bisnis properti mulai menggeliat. Pelaku usaha konstruksi mulai semangat kembali.

Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit konstruksi properti per Desember 2017 tumbuh 20% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 257,2 triliun. Tahun ini, para bankir memperkirakan, kredit konstruksi properti masih akan bertumbuh dobel digit.

Mahelan Prabantarikso, Direktur PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) melihat permintaan nasabah developer atau pengemban masih akan tinggi di tahun 2018. Dia menargetkan kredit konstruksi perumahan BTN bisa tumbuh dobel digit hingga sebesar 23% di tahun ini. Target tersebut lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu.

Nasabah developer masih tinggi peminatnya, baik perumahan tapak maupun bangunan rumah vertikal, jelas Mahelan.

Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan rumah dan permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) yang masih cukup besar. Sebagaimana diketahui, backlog atau selisih ketersediaan rumah dengan permintaan yang ada saat ini masih sekitar 11,4 juta unit rumah.

Kredit konstruksi BTN mengambil porsi sebesar 12% sampai dengan 14% dari total kredit. Sekadar informasi, berdasarkan laporan keuangan per Desember 2017, BTN telah menyalurkan kredit sebesar Rp 198,99 triliun atau tumbuh 21,1%.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga optimistis di tahun 2018 kredit konstruksi sektor properti dapat tumbuh hingga dua digit. Tanpa menyebut angka pasti, menurut BNI, sasaran kredit ini diperuntukan bagi nasabah pengembang perumahan.

Herry Sidharta, Wakil Direktur Utama BNI menuturkan, kredit konstruksi properti BNI selama tahun 2017 tumbuh 9,3% secara tahunan. Menurutnya, kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) serta penyaluran kredit kepada pengembang perumahan real estate.

Kredit konstruksi properti diperkirakan akan tumbuh dua digit seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi makro di Indonesia serta proyeksi positif mengenai membaiknya pasar properti ke depannya, jelas Herry.

Sekadar informasi, BNI menargetkan pertumbuhan total kredit di tahun 2018 sebesar 15%-17%. Target kredit ini lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan kredit 2017 sebesar 12,2% jadi Rp 441,3 triliun.

Namun perlu diwaspadai data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2017 mencatat rasio kredit bermasalah sektor ini cukup tinggi yakni mencapai 3,67% gross.

Sumber: kontan.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here