RAKYAT.NET – Sebuah perusahaan start up berbasis digital, KENDI menawarkan aplikasi pencatatan keuangan digital yang bisa digunakan oleh para pengusaha kelas mikro, kecil dan menengah (UMKM). Aplikasi tersebut bisa diunduh dan digunakan secara gratis oleh penggunanya.

Chief Technology Officer KENDI, Pandu Sastrowardoyo mengatakan pihaknya telah merancang sebuah aplikasi pencatat keuangan yang user friendly.

Teknologi Digital Berperan Mendorong Pertumbuhan Pelaku UMKM

“Penggunaannya sangat mudah, seperti menggunakan kalkulator biasa,” katanya di Solo, Rabu (13/03/2019).

Sekilas, aplikasi tersebut mirip dengan aplikasi kasir yang banyak tersedia di PlayStore. Aplikasi itu bisa digunakan untuk mencatat stok, transaksi hingga menghitung pendapatan dan pengeluaran.

Selain itu, KENDI juga bisa terhubung dengan thermal printer maupun barcode scannermelalui koneksi bluethooth. “Kebutuhan dasar untuk kasir bisa ditangani oleh aplikasi ini,” kata Sekjen Asosiasi Blockchain Indonesia itu.

Yang membuat berbeda dengan aplikasi kasir lain, pemilik usaha bisa melakukan customize dengan menjadi super admin bersama beberapa karyawan yang menggunakan aplikasi sama. “Sehingga pemilik usaha bisa memantau kasirnya secara real time,” katanya. Sistem itu juga berguna untuk pengusaha yang memiliki beberapa cabang toko.

Selain menarik pelaku usaha sebagai user, pihaknya juga akan menggandeng investor maupun perbankan untuk memberikan value terhadap platform tersebut. “Termasuk juga perusahaan Fintech,” katanya. Dengan demikian, aplikasi itu bisa menjembatani antara pelaku usaha dengan pemilik modal.

“Investor atau perbankan bisa memilih usaha dengan keuangan yang bagus untuk diberi pinjaman modal,” katanya. Sistem itu menurutnya bisa mendorong pelaku UMKM untuk bisa lebih bankable. “Mereka yang tidak memiliki agunan bisa mendapatkan modal jika prospek bisnisnya bagus,” katanya.

Sebagai pilot project, saat ini KENDI tengah melakukan pendekatan dengan pelaku usaha di Solo, Jawa Tengah. “Kami memilih untuk fokus di satu kota dulu,” katanya. Jika dirasa cukup berhasil, mereka baru akan mengembangkannya di kota lain.

Dia mengklaim aplikasi sebesar 10 megabite itu cukup ringan untuk digunakan. “Bahkan bisa bekerja di telepon pintar kelas menengah ke bawah,” katanya. Meski belum diluncurkan resmi, aplikasi itu sudah diunduh lebih dari 100 kali dengan mendapat rating 4,5.

Uji coba tersebut juga mendapat restu dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. “Selama ini banyak pengusaha kecil yang belum memiliki sistem administrasi keuangan yang baik,” kata Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM RI Victoria Boru Simanungkalit.

Dia berharap UMKM bisa terangkat dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. “Yang mereka butuhkan adalah sistem administrasi yang baik dan akses permodalan,” katanya.