RAKYAT.NET, Jakarta – Kebijakan pemerintah menaikan suku bunga dinilai akan membenani sektor riil. Pengusaha menilai kenaikan suku bunga acuan 7-days reverse repo rate sebesar 50 basis poin atau 5,25 persen oleh Bank Indonesia (BI) akan bebani sektor industri.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S.Lukman neuturkan, suku bunga acuan naik bakal keluarkan biaya modal kerja yang besar.

“Seperti yang BI minta ke perbankan, sebetulnya kenaikan suku bunga ini diharapkan agar bank tidak menaikkan suku bunga pinjaman. Tapi beberapa bank justru sudah tercatat lakukan itu. Suku bunga acuan ini lebih untuk pengendalian arus uang sehingga uang tidak keluar dari Indonesia,” katanya.

Adhi menuturkan, hal ini akan semakin memberatkan dunia industri mengingat nilai tukar rupiah yang alami depresiasi.

“Suku bunga pinjaman naik, akan semakin memberatkan operasional industri d itengah depresiasi rupiah saat ini. Yang pasti kebanyakan industri struktur pembiayaan sekarang 30:70, 70 persen pinjaman bank. Maka biaya modal kerja naik,” ungkap Adhi.

Dengan kondisi tersebut berdampak terhadap investasi. Apalagi suku bunga pinjaman bank di negara tetangga lebih rendah. “Dan tentu investasi akan semakin berat ditengah persaingan global, dimana bunga bank di negara tetangga ASEAN rata-rata kan lebih rendah,” lanjutnya.

“Jadi, investasi di hulu yg padat modal dan jangka panjang akan semakin berat. Padahal Indonesia perlu mendorong investasi di hulu dan intermediate untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri hilir,” tambahnya.

Senada, Ketua Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kaderisasi (OKK) dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Angga Prawira mengatakan yang saat ini dibutuhkan adalah kebijakan yang mendukung dunia usaha.

“Kenaikan suku bunga, semakin memberatkan dunia usaha. Apalagi sekarang likuiditas perbankan juga sulit saat ini. Sebetulnya kalau melihat situasi sekarang kan yang dibutuhkan relaksasi,” kata Angga.

Angga menilai kebijakan untuk naikkan suku bunga acuan justru memperlambat pertumbuhan ekonomi khususnya bagi para pelaku usaha.

“Jadi ini sebenarnya membuat ekonomi semakin lambat. Jadi dalam pandangan kami di situasi seperti ini butuh sekali policy-policy yang memang bisa membawa relaksasi,” tambahnya.

Sumber: liputan6.com