RAKYAT.NET, Jakarta – Kemenangan Ketua DPR RI Setya Novanto dalam sidang praperadilan membuktikan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja secara serampangan.

Anggota Pansus KPK Edy Kusuma Wijaya bahkan menyebut KPK tidak melakukan analisis mendalam sebelum menetapkan seseorang menjadi tersangka.

“Seharusnya ada analisis dulu sebelum menuju ke sana (penetapan tersangka),” ujarnya.

Edy menilai KPK secara serampangan dalam menetapkan orang sebagai tersangka. Padahal di satu sisi, mereka belum memiliki bukti yang kuat.

Contohnya dalam kasus Setya Novanto, KPK hanya memakai keterangan dari tersangka korupsi lain sebagai awal penetapan tersangka.

“KPK dalam penetapan tersangka ini yang dipakai kan ocehannya Nazaruddin yang menyebut ada beberapa anggota DPR yang terlibat,” jelasnya.

Ocehan Nazarudin seharusnya didalami terlebih dahulu hingga ada bukti kuat. Hal itu mengingat Nazarudin tidak pernah ada kaitannya dengan proyek KTP-el.

“Korupsi di KTP-el yang merugikan negara Rp 2,3 triliun itu data dari mana?” tukas politisi PDIP itu.

Sumber: rmol.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here