RAKYAT.NET, Jakarta – Sepekan menjelang masuknya bulan Ramadan, harga pangan di sejumlah pasar mulai menggeliat terutama pada daging ayam dan telur.

Di Pasar Bendungan Hilir, harga daging ayam mencapai Rp 28.000 per kilogram (kg), naik dari sebelumnya Rp 24.000 per kg. Sementara harga telur meroket di kisaran Rp 28.000 per kg dari harga normal sebelumnya Rp 26.000 per kg.

Kenaikan serupa juga terjadi di Pasar Palmerah. Harga daging ayam berkisar Rp 40.000 per kg, dari sebelumnya Rp 34.000 per kg dan harga telur Rp 26.000 per kg dari sebelumnya Rp 24.000 per kg. Pada kondisi normal harga telur di pasaran sekitar Rp 21.000–Rp 22.000 per kg

Tingginya kenaikan harga tersebut menimbulkan kekhawatiran seiring dengan makin dekatnya bulan Ramadan, sehingga ada potensi harga masih akan naik. Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri bilang, harga bahan pangan pada Ramadan tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Sebab, harga bahan pangan sudah mulai menunjukkan kenaikan meski belum memasuki bulan puasa.

Menurut Abdullah, harga beberapa bahan pangan tergolong tinggi, bahkan ada beberapa bahan pangan yang sudah menunjukkan kenaikan sejak seminggu terakhir. “Tahun ini kenaikan harga pangan bisa 15%-20%. Sekarang ini belum ada peningkatan permintaan saja sudah naik 20%,” ujar Abdullah.

Meskipun harga daging ayam meroket di pasaran, namun pemerintah memastikan tidak akan ada impor. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kemtan) I Ketut Diarmita menepis adanya isu impor ayam dan daging sapi Brasil. “Kami pastikan isu impor ayam dan daging sapi itu tidak ada,” katanya.

Harga beras naik

Selain harga daging ayam dan telur, harga pangan lain seperti cabai masih relatif stabil tinggi dikisaran Rp 30.000–35.000 per kg. Sementara harga daging sapi stabil sekitar Rp 120.000 per kg dan minyak goreng curah berkisar Rp 12.000–Rp 13.000 per kg

Harga beras juga tergolong masih tinggi. Di pasar Bendungan Hilir, harga beras Pandan Wangi dikisaran Rp 13.000 per kg, sementara beras Cianjur kepala Rp 11.000 per kg. “Sekarang harganya masih stabil tinggi,” ujar Buyung salah satu pedagang. Salah satu pedagang di Pasar Palmerah mengaku, telah terjadi kenaikan harga beras Rp 200 per kg dalam beberapa hari ini.

Abdullah Mansuri mengaku, meskipun sudah ada panen raya, namun harga beras tidak turun signifikan. Itu terjadi karena penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras sulit diterapkan di pasar tradisional. Alasannya di pasar sangat banyaknya jenis beras.

“Di pasar itu ada beras ramos, muncul, sentra 1. Ini relatif tidak bisa diukur medium atau premium. Untuk IR 1 misalnya, Rp 11.700 per kg, IR 3 Rp 9.500 per kg, IR 2 atau ramos Rp 10.700 per kg, dan beras pera atau IR 42 Rp 12.400,” jelasnya.

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Beras dan Padi (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, sebenarnya stok beras di penggilingan masih cukup banyak karena baru selesai panen raya. Karena itu menurutnya, harga beras yang masih tinggi dan tidak sesuai HET bisa menguntungkan petani.

Menurut Sutarto, harga beras masih tinggi karena beras yang dijual lebih banyak jenis premium. “Untuk itu pemerintah harus menyiapkan beras medium sebagai pengganti raskin untuk masyarakat ekonomi bawah,” katanya.

Sumber: kontan.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here