RAKYAT.NET, Jakarta – Macet, macet dan macet. Kata kesal sering terucap oleh masyarakat Jakarta. Tak mengherankan, sebab kondisi jalanan di Jakarta memang sudah parah. Kemacetan terjadi di mana-mana.

Bergelut dengan kemacetan Jakarta menjadi sarapan pagi, siang, maupun sore. Suara klakson sahut-menyahut membuat riuh langit Ibu Kota. Aksi salip-menyalip acap kali menambah gaduh suasana. Emosi pun bisa memuncak seiring nestapa kemacetan tak berujung.

Semrawut lalu lintas itu juga rupanya berkaitan erat dengan pemborosan energi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat, sektor transportasi menempati urutan tertinggi dalam hal bauran konsumsi energi tanah air.

“Sektor transportasi memang masih menjadi penyumbang terbesar konsumsi energi saat ini. Karena itulah, kita harus mulai menghemat (energi) dari sekarang,” kata Kepala Subdirektorat Penerapan Teknologi Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Edi Sartono di Jakarta.

Adapun Edi berbicara dalam forum Innovation Summit 2018 yang diselenggarakan oleh Schneider Electric. Edi mengatakan, pada 2025, pemerintah berharap besarnya konsumsi energi pada sektor transportasi itu dapat ditekan menjadi 30 persen.

Untuk mengikis penggunaan energi sektor transportasi itu, lanjut Edi, sejumlah langkah telah didorong oleh pemerintah. Utamanya dalam meningkatkan kualitas serta kapasitas angkutan massal.

Bentuknya bermacam-macam, antara lain bus rapid transit (BRT), mass rapid transit (MRT), serta light rail transit (LRT). BRT telah beroperasi di sejumlah kota besar Tanah Air. Sebut misalnya, Jakarta. Hingga saat ini, Jakarta telah memiliki 13 koridor transjakarta. Kota seperti Semarang, Bandung, dan beberapa kota lainnya juga telah memiliki jaringan angkutan massal berbasis bus.

MRT pun tengah dibangun di Jakarta dan ditargetkan beroperasi pada Maret 2019. Sementara itu, selain di Jakarta, LRT juga segera beroperasi di Palembang, Sumatera Selatan. “Selain transportasi massal, ada juga program fuel switching, yakni konversi dari bahan bakar minyak ke gas maupun biodiesel,” tambahnya.

Sumber: kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here