RAKYAT.NET, Jakarta – Provinsi Bengkulu membentuk koridor gajah sumatra (Elephas maximus Sumatranus) di bentang alam Kerinci-Seblat wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko untuk melestarikan satwa itu.

Dilansir dari antaranews.com, Mirawati Soedjono selaku Kasubdit Koridor dan Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT) Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat mendukung rencana pemerintah Provinsi Bengkulu. Inisiasi tersebut sangat positif dan harus segera diwujudkan.

Pembentukan koridor gajah yang ditetapkan dalam bentuk Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) menjadi salah satu upaya mengatasi ancaman kepunahan gajah Sumatera yang saat ini berstatus kritis.

Khusus area Bengkulu habitat gajah terfragmentasi akibat pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan dikhawatirkan mempercepat kepunahan gajah.

Mirawati mengatakan pembentukan koridor gajah penting mengingat hampir 80 persen wilayah jelajah gajah berada di luar kawasan konservasi.

Wilayah jelajah gajah di luar kawasan konservasi berstatus hutan produksi, hutan produksi terbatas, area peruntukan lain dan sebagian areal perkebunan sawit milik swasta.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, Abu Bakar mengatakan usulan koridor gajah tersebut muncul dari kondisi lapangan di mana habitat gajah sudah terkotak-kotak akibat pembukaan lahan secara liar.

Saat ini kata Abu, populasi gajah Sumatera yang hidup liar di wilayah Bengkulu diperkirakan tersisa 70 ekor dengan kondisi hidup terpisah akibat fragmentasi hutan.

Jika gajah hidup terisolasi maka dikhawatirkan terjadi perkawinan sekerabat atau sedarah yang mengancam keanekaragaman genetik.

Koridor tersebut berfungsi menghubungkan antarwilayah yang terfragmentasi sehingga antarkelompok gajah dapat terhubung atau bertemu, katanya.

Sumber: antaranews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here