RAKYAT.NET, Jakarta – Defisit neraca perdangangan Indonesia dengan mitra dagang terbesarnya, yakni Cina, kembali terjadi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca dagang Indonesia dengan Cina sebesar 8,1 miliar dolar AS pada Januari hingga Mei 2018.

Angka defisit makin melebar dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 5,8 miliar dolar AS. Cina masih mendominasi pangsa ekspor maupun impor nonmigas Indonesia pada Januari hingga Mei 2018. Impor asal Cina adalah 18,36 miliar dolar AS atau 27,87 persen dari total impor nonmigas.

“Impor dari Cina didominasi produk laptop dan TV LCD,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, di Jakarta, Senin (25/6).

Sementara itu, ekspor ke Cina adalah 10,25 miliar dolar AS atau 15,05 persen dari total ekspor nonmigas.

Cina merupakan negara yang memberikan defisit neraca dagang terbesar untuk Indonesia. Hal itu kemudian disusul oleh Thailand dengan defisit neraca dagang sebesar 2 miliar dolar AS dan Australia sebesar 1 miliar dolar AS.

BPS mencatat secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,52 miliar dolar AS pada Mei 2018. Defisit kembali terjadi setelah April 2018 juga terjadi defisit sebesar 1,63 miliar dolar AS. Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2018, defisit neraca dagang makin melebar menjadi 2,83 miliar dolar AS.

“Pertumbuhan ekspor sebetulnya bagus, tapi pertumbuhan impornya jauh lebih tinggi,” ujar Suhariyanto.

Impor pada Mei 2018 mencapai 17,64 miliar dolar AS. Suhariyanto menyebut, terjadi kenaikan impor sebesar 9,17 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, jika dibandingkan Mei 2017 terjadi peningkatan 28,12 persen.

Impor migas menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 20,95 persen (month to month/MTM) menjadi 2,81 miliar dolar AS. Sementara itu, impor nonmigas naik 7,19 persen (MTM) menjadi 14,89 miliar dolar AS.

Menurut penggunaan barang, impor barang konsumsi melonjak akibat kebutuhan Ramadhan. Suhariyanto memerinci, impor barang konsumsi Mei 2018 adalah 1,73 miliar dolar AS. Nilai impor itu mengalami peningkatan 14,48 persen (MTM) dan 34,01 persen (YOY).

Sumber: republika.co.id