Kesibukan Fariz Nugraha meningkat setahun belakangan. Setiap hari ia menjalani 3 peran sekaligus; guru, wirausaha batuan zeolit, dan bisnis sayuran hidroponik. Profesi yang disebut terakhir paling menyita waktu Fariz. Selain menangani kebun sendiri, ia juga sibuk menjalin kerja sama dengan mitra. Sesekali ia membagi pengalaman berkebun kepada pelaku hidroponik pemula. Fariz menjadi satu dari sekian banyak pekebun hidroponik sukses yang mengawali karier dari sekadar hobi.

Hidroponik sederhana di balkon rumah menjadi titik awal karier Fariz sebagai pekebun sayuran hidroponik.

Hidroponik sederhana di balkon rumah menjadi titik awal karier Fariz sebagai pekebun sayuran hidroponik.

Pekebun hidroponik di Sukabumi, Jawa Barat, itu menuturkan berkebun sayuran hidroponik sangat menjanjikan. Ia mengebunkan sayuran hidroponik dalam greenhouse seluas 85 m². Pria ramah itu menanam pakcoy hijau dan putih, selada bokor hijau, dan sawi pagoda. Total populasi 1.000 tanaman. Dalam satu siklus tanam atau 30 hari, ia memanen 500 ikat sayuran. Satu ikat terdiri atas 2 tanaman setara 250 gram. “Itu untuk memasok supermarket ternama di Sukabumi,” ujarnya. Sayuran berlabel Sukaponic—nama kebun Fariz—itu dibanderol Rp4.000 per ikat.

Mitra
Fariz mengeluarkan modal untuk membangun greenhouse dari bambu beserta instalasinya Rp10-juta. Adapun biaya operasional Rp400.000 untuk satu kali musim tanam—termasuk upah karyawan, listrik, air, nutrisi, benih, dan rockwool. Dengan harga jual sayuran Rp4.000 per ikat, ia mengantongi laba Rp1,6-juta per musim tanam. Dengan keuntungan itu Fariz mencapai balik modal setelah berproduksi selama 10 bulan.

Display produk Sukaponic di sebuah pasar swalayan di Sukabumi, Jawa Barat.

Display produk Sukaponic di sebuah pasar swalayan di Sukabumi, Jawa Barat.

Semula Fariz berkebun sayuran hidroponik hanya sekadar hobi. Sarjana Agribisnis, alumnus Universitas Muhammadiyah Sukabumi itu memulai hobi berkebun sayuran nirtanah sejak 2011. Ia memanfaatkan balkon rumah sebagai lokasi kebun. Fariz menanam sayuran dalam botol-botol bekas. Lantaran masih awam, ia menggali banyak informasi seputar hidroponik dari pehobi senior, literatur, dan dunia maya. Dari hasil penelusuran itu, ia berhasil membuat sendiri hidroponik sistem rakit apung.

Ayah satu anak itu memiliki 20 sistem hidroponik rakit apung dengan total populasi 120 tanaman. Ia menanam pakcoy, selada, dan kailan. Pada 2014 ia menghadiri pameran pertanian yang digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Sukabumi. Saat itu Fariz masih mengusung nama komunitas pehobi hidroponik di Sukabumi. Tak disangka perwakilan pasar swalayan tertarik sayuran milik Fariz. Maklum, pasokan sayuran hidroponik di Sukabumi berasal dari luar kota seperti Bandung, Bogor, dan Cianjur.

Tawaran kerja sama dagang pun bergulir. Fariz tidak sertamerta menerima “pinangan” itu. “Produksi masih sangat rendah sebab keterbatasan lahan,” ujarnya. Fariz baru sanggup memasok sayuran hidroponik ke pasar swalayan pada 2016. Ia menjalin kemitraan dengan 10 pekebun hidroponik di Kota Sukabumi. “Mereka adalah pekebun hidroponik skala kecil yang memulai jejak sebagai pehobi,” ujarnya. Lewat kemitraan itu, pekebun bisa langsung menjual sayuran ke supermarket dengan menunjukkan kartu anggota Sukaponic.

Sayuran hidroponik berlabel Sukaponic bebas pestisida.

Sayuran hidroponik berlabel Sukaponic bebas pestisida.

Luas kebun pekebun mitra bervariasi antara 10 m² sampai 150 m². Mereka memasok selada bokor hijau, pakcoy hijau, pakcoy putih, dan sawi pagoda. Fariz tidak mengikat pekebun dengan perjanjian yang rumit. Ia hanya mensyaratkan sayuran bebas pestisida. “Pekebun yang tidak memenuhi syarat akan terkena sanksi pemutusan kemitraan,” ujarnya. Fariz betul-betul menjaga citra produk Sukaponic sebagai sayuran sehat dan higienis.

Jadwal
Guru mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan itu mengatur jadwal penanaman dan penjualan antarpekebun. Dengan begitu pasokan sayuran selalu ada dan tidak terjadi banjir produksi. Sebab itu setiap hari hanya ada 2 pekebun yang mendapat giliran berjualan. Pasar swalayan menerima 50 ikat setara 12,5 kg sayuran hidroponik dari pekebun. Pekebun dan pasar swalayan masing-masing memperoleh bagian 75% dan 25% dari harga jual di tingkat konsumen. Pasar swalayan membanderol harga Rp6.500 per ikat. Satu ikat berbobot 250 gram.

Sayuran hidroponik produksi Sukaponic.

Sayuran hidroponik produksi Sukaponic.

Fariz menuturkan permasalahan utama di dunia pertanian bermuara pada tata niaga. Pekebun bisa menanam dan panen optimal, tetapi kesulitan menjual. Saat mulai berkebun mereka hirau soal pemasaran sebab tujuan berkebun hidroponik memang untuk konsumsi sendiri. “Alangkah baiknya jika mereka bisa memasarkan sayuran hidroponik itu ke pasaran. Mereka bisa memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan yang semula hanya hobi itu,” ujar Fariz.

Faris juga terus memperkaya ilmu berhidroponik dengan meracik sendiri nutrisi hidroponik. Ia juga mulai memperluas pasar dengan beberapa kafe dan restoran di Sukabumi. Menurut Prof Anas Dinurrohman Susila, anggota staf pengajar Produksi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, syarat bagi pekebun hidroponik agar sukses memasarkan produk adalah menjaga kualitas barang dan promosi yang apik. Kemas produk sedemikian rupa agar tampak eksklusif. Produk bebas pestisida merupakan modal kuat bagi pekebun hidroponik. “Kini masyarakat kian sadar terhadap bahaya pestisida. “Itu sebabnya, sayuran bebas pestisida memiliki peluang pasar cukup besar,” ujar Anas.

(Andari Titisari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here