TEMPO.CO, California – Kencan digital menjadi trend remaja milenial saat ini. Masalahnya, dalam hubungan cinta yang dipermudah oleh media sosial itu bisa juga terjadi pelecehan atau yang dikenal dengan istilah digital dating abuse (DDA).

Itulah yang terungkap dalam riset terbaru yang digelar oleh peneliti Universitas Michigan dan Universitas California, Santa Barbara,  Amerika Serikat. “Meski pelecehan kencan digital berpotensi membahayakan semua remaja, masalahnya gender,” kata Lauren Reed, peneliti utama Universitas California, Santa Barbara, Amerika Serikat. Maksudnya, pelecehan kencan digital jauh lebih banyak terjadi pada remaja perempuan ketimbang remaja laki-laki.

Hasil riset ini terbit di Journal of Adolescence, akhir Juni lalu. Pelecehan kencan digital (DDA) mencakup penggunaan media digital, termasuk telepon seluler dan Internet. Biasanya pelaku akan mengontrol, mengancam, melecehkan, menekan, atau memaksa pasangan kencan. Riset ini meneliti dampak gender terhadap pengalaman siswa sekolah menengah atas tentang perilaku kencan digital tersebut.

Tim melibatkan 703 siswa sekolah menengah atas di Midwestern, Amerika Serikat. Mereka diminta melaporkan frekuensi pelecehan kencan digital, jika mereka terganggu oleh insiden terbaru, dan bagaimana tanggapan mereka.

Dalam kurun waktu yang ditetapkan, yakni Desember 2013 dan Maret 2014, mereka juga diminta untuk menunjukkan frekuensi mengalami beberapa perilaku digital bermasalah dengan pasangan berkencan, termasuk “menekan saya untuk melakukan hubungan seks” atau “mengirim foto telanjang”, mengirim pesan yang mengancam, melihat informasi pribadi untuk memeriksa saya tanpa izin, dan memantau lokasi dan kegiatan.

Hasilnya menunjukkan, bahwa meski remaja perempuan dan remaja laki-laki mengalami DDA dengan tingkat frekuensi yang sama (kecuali pemaksaan seksual), remaja perempuan melaporkan bahwa mereka lebih terganggu oleh perilaku ini.

Anak perempuan juga mengekspresikan tanggapan emosional yang lebih negatif terhadap viktimisasi DDA daripada anak laki-laki. “Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman dan konsekuensi DDA mungkin sangat merugikan anak perempuan,” ujar Lauren Reed.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here