RAKYAT.NET, Jakarta – Setya Novanto lengser dari kursi ketua umum partai. Airlangga Hartarto diberi tongkat komando untuk memimpin Partai Golkar.

Dilansir dari merdeka.com, setelah posisi ketua umum tergeser, kini giliran kursi Sekretaris Jenderal yang ‘digoyang’. Posisi Idrus Marham pun terancam. Adalah Politisi Partai Golkar Yorrys Raweyai yang pertama kali menghembuskan isu agar Idrus diganti. Alasannya, Idrus pendukung setia Novanto. Dia minta Airlangga tak mempertahankan Idrus.

Dalam pandangannya, mempertahankan pendukung Novanto di kepengurusan diyakini tidak akan memperbaiki wajah Partai Golkar. Tidak akan hilang pandangan publik bahwa Golkar adalah partai pembela Setya Novanto.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto tidak menampik mayoritas suara peserta Munaslub menginginkan perubahan struktur dalam tubuh partai. Airlangga siap menjalankan amanat revitalisasi pengurus jika nantinya dalam Munaslub menyepakati itu.

Namun, Menteri Perindustrian tidak akan menendang kader yang potensial. Termasuk para loyalis dan pendukung mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto.

Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Titiek Soeharto setuju dengan adanya revitalisasi kepengurusan, termasuk posisi Sekjen. Dia berharap posisi itu bisa diisi seseorang yang memiliki latar belakang tentara.

Dalam pandangannya, soliditas Golkar akan terjaga dengan adanya sosok Sekjen dari unsur TNI. Dia berkaca kepemimpinan Sekjen Golkar di masa orde baru. Saat itu Sekjen Golkar adalah Letnan Jenderal (Purn) Budi Harsono, Letnan Jenderal (Purn) Ary Mardjono.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ikut angkat bicara. JK punya sosok ideal calon Sekjen Golkar. Sekjen partai harus berpengalaman dan memahami sejarah panjang partai berlambang pohon beringin.

Selain itu, sosok calon Sekjen Golkar harus militan, terpercaya dan mampu bekerja keras. Dia juga berpesan, sosok yang mengisi jabatan struktural harus bersih. Golkar juga perlu meluruskan kembali visinya menuju partai yang kredibel.

Sekjen Partai Golkar Idrus Marham hanya bisa pasrah jika Airlangga Hartarto menggeser posisinya. Menurutnya itu adalah hak Ketua Umum.

Idrus mengaku legowo. Namun kerelaannya meninggalkan kursi Sekjen bukan karena ada deal tawaran posisi menteri. Dia hanya ingin menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum. Sebagai kader, Idrus mengaku akan tetap mengikuti arahan dari Ketua Umum. Hal itu untuk kebaikan partai.

“Jadi saya taat tunduk apapun itu keputusannya. Enak kita berpartai gitu. Jangan bukan ketua umum kita jadi ketua umum. Ini yang merusak partai ini,” ucapnya.

Meski begitu, Idrus mengendus ada pihak-pihak yang menginginkan perombakan total pada susunan kepengurusan. Sebagai mantan Pelaksana Tugas Ketua Umum, Idrus merasa kurang suka dengan penggunaan kata perombakan kepengurusan yang muncul dari beberapa kader. Menurutnya, penggunaan kata perombakan dalam forum Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) tidaklah sesuai. Sebab bisa menimbulkan suasana yang tidak kondusif di internal Partai Golkar.

“Jadi semua ingin ada perubahan, revitalisasi. Cuma ada satu dua orang yang menggunakan kata perombakan. Nah kata-kata perombakan total secara psikososial politik bisa saja membuat suasana yang kurang bagus antara keluarga besar Partai Golkar,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, penggunaan kata perombakan tidak sesuai dengan tema dari Munaslub. Serta bertentangan dengan nilai-nilai yang ingin dicapai.

Sosok yang digadang-gadang sebagai calon pengganti Idrus pun mulai bermunculan. Wasekjen Ace Hasan Syadzily hingga Ketua DPP Ibnu Munzir sebagai sosok yang tepat menduduki kursi Idrus Marham. Ibnu Munzir tak banyak berkomentar. Sebagai kader, Ibnu siap mengemban tugas jika memang benar dipilih sebagai Sekjen.

Menurutnya, masalah revitalisasi masih harus melihat keinginan dari para DPD I. Pembahasan itu juga akan melalui Munaslub.

Senada dengan Ibnu, Ace juga enggan mengomentari lebih jauh. Dia mengaku tak pernah terpikir menjadi Sekjen. Ace mengaku saat ini lebih fokus mencari solusi membangkitkan partai yang anjlok.

“Saya tidak terpikir untuk menjadi Sekjen dan buat saya jabatan adalah sesuatu yang tidak dikejar. Saya bekerja bagaimana membangkitkan kepercayaan masyarakat kepada partai,” jelas Ace.

Mengenai siapa yang akan menjadi Sekjen, Ace menyerahkan seutuhnya ke Airlangga. “Saya serahkan kepada Ketum Pak Airlangga. Saya tidak mau komentarlah,” tutupnya.

Sumber: merdeka.com
Gambar: googleimages

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here