RAKYAT.NET, Pontianak – Food Agriculture Organization (FAO) of United Nations menilai pemerintah perlu meningkatkan pembangunan di pedesaan. Hal itu, guna mendorong pembangunan di sektor pangan dan pertanian.

Pembangunan di pedesaan penting dilakukan, sebab dari catatan FAO hampir setengah penduduk RI tinggal di wilayah pedesaan.

“Di Indonesia sendiri saat ini 45% penduduknya tinggal di daerah pedesaan, dan meski sepertiga pekerja formal di seluruh negeri masih bekerja di bidang pertanian, pekerjaan mereka menjadi semakin penting,” kata Perwakilan FAO di Indonesia, Mark Smulders, dalam acara Hari Pangan Sedunia ke-37, di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (19/10/2017).

Setiap tahun, kata Smulders, seluruh negara memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) sebagai bentuk penghargaan atas kerja sama semua pihak, khususnya petani yang telah menyediakan beragam makanan untuk hidup bagi jutaan orang.

Menurutnya, setiap tahun itu juga masih banyak orang-orang yang tidak memiliki pangan yang cukup untuk dikonsumsi. Dari catatannya, di Indonesia sendiri masih ada puluhan juta orang yang mengalami hal itu.

“Selama tahun 2015-2016, jumlah orang yang berangkat tidur dengan perut lapar setiap hari meningkat, itu untuk pertama kali dalam beberapa dekade, menjadi lebih dari 800 juta. Di Indonesia sendiri masih ada sekitar 20 juta yang tidak mengalami pangan cukup untuk makan dan pemenuhan gizi,” jelasnya.

Hal itu, menurut Smulders, disebabkan karena banyaknya migrasi yang dilakukan masyarakat pedesaan, entah itu bermigrasi ke kota, atau bahkan ke luar negeri. Migrasi memiliki dampak pada situasi ketahanan pangan baik dampak positif maupun dampak negatif.

Sementara, di Indonesia sendiri banyak penduduk desa yang bermigrasi karena masalah ekonomi. Dari catatan FAO, pada tahun 2014, jumlah resmi pekerja Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai hampir 500 ribu orang, di mana lebih dari separuhnya adalah wanita.

Para migran tersebut mengirim uang kepada keluarga di kampung halaman agar keluarga mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Besaran kiriman uang tahunan dari migran mencapai US$ 10 juta dolar atau sekitar 1% dari produk domestik bruto (PDB),” ujar Mark.

Dengan migrasi itu, para penduduk yang tadinya banyak tinggal di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian mengalami penurunan. Mereka lebih memilih untuk bermigrasi karena lebih menguntungkan. Akibatnya, tingkat ketahanan pangan yang diciptakan dari para petani pedesaan itu pun menurun. Oleh sebab itu, dirinya menyarankan agar pemerintah juga fokus untuk mendorong investasi di daerah pedesaan.

“Sebagian besar pekerjaan yang tersedia di bidang pertanian menghasilkan pendapatan yang kecil dan tidak stabil, kondisi keamanan dan kesehatan yang buruk, ketimpangan upah dan kesempatan bagi wanita serta perlindungan sosial yang terbatas,” jelas dia.

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here