RAKYAT.NET, Jakarta – Rambut rontok merupakan efek samping yang sering terjadi saat perawatan kanker. Banyak pasien khawatir dengan kenyataan ini. Mengapa ini bisa terjadi?

Para peneliti di Departemen Kedokteran di Universitas Chicago, Amerika Serikat menyatakan folikel rambut adalah struktur yang sangat aktif. Sejumlah sel di dalamnya aktif membelah untuk menumbuhkan rambut.

Ilmuwan menggunakan studi asosiasi genome untuk membandingkan tanda-tanda genetik pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi dan mengalami kerontokan rambut. Dilansir dari Medical News Today, Selasa (15/5), ada beberapa gen yang terlibat dalam hilangnya folikel rambut, salah satunya CACNB4. Ini adalah bagian dari saluran kalsium yang berperan penting dalam pertumbuhan sel dan apoptosis.

Ada juga gen lain, BCL9 yang dikenal berperan dalam perkembangan folikel rambut. Obat kemoterapi dirancang secara aktif membunuh semua sel yang membelah dengan cepat. Rambut adalah bagian tubuh malang yang dibunuh bersamaan dengan sel-sel kanker.

Kebanyakan orang tak ingin kehilangan rambut mereka, sehingga menolak kemoterapi. Tingkat kerontokan rambut atau chemotherapy-induced alopecia (CIA) bergantung pada jenis kanker, obat spesifik yang digunakan, dosis obat, dan pola perawatan.

Banyak pasien mengalami kerontokan rambut satu hingga dua pekan setelah menjalani kemoterapi. Area rambut yang mengalami gesekan tinggi ketika tidur, seperti bagian atas kepala dan sisi atas telinga sering kali menjadi bagian pertama yang rontok. Rambut biasanya rontok keseluruhan setelah tiga bulan.

Pertumbuhan kembali rambut setelah kemoterapi biasanya dimulai satu hingga tiga bulan setelah perawatan berakhir. Sebanyak 60 persen pasien melaporkan terjadi perubahan warna rambut saat awal-awal tumbuh usai kemoterapi. Sebagian melaporkan rambut mereka mengalami pengeritingan. Namun, perubahan ini hanya bersifat sementara sebab rambut bisa kembali normal pada akhirnya.

Sumber: republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here