RAKYAT.NET, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih melakukan tender untuk menerapkan teknologi sistem Electronic Road Pricing (ERP) atau Sistem Jalan Berbayar. Selain itu, perbaikan fasilitas publik juga tengah dikebut persiapannya.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Sigit Wijatmoko mengatakan, pihaknya tidak bisa langsung menerapkan sistem ERP. Karena transportasi publik yang memadai menjadi syarat penerapan jalan berbayar tersebut.

“ERP masih tender, belum kok. ERP itu kajiannya sudah ada 13 tahun lalu, jadi tinggal tunggu,” katanya kepada merdeka.com, Senin (2/10).

Dia mengungkapkan, penerapan ERP kemungkinan besar baru dapat beroperasi pada tahun 2019. Mengingat beberapa moda transportasi seperti MRT, LRT dan BRT akan mulai terintegrasi pada 2018 mendatang.

“Harapannya kita 2019 ERP bisa diterapkan,” tutup Sigit.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono mengatakan, Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) sudah beberapa kali melakukan diskusi dengan calon investor membahas kekurangan dan kelebihan ERP.

“Kami sudah diskusi tiga kali soal penggunaan teknologi, karena teknologi program jalan berbayar itu kan tidak hanya satu,” kata Sumarsono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (20/12).

Selain ERP, ada beberapa teknologi lain yang ditawarkan. Tapi, pria yang juga pernah menjabat sebagai Plt Gubernur Sulut ini menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin coba-coba dalam menerapkan teknologi tersebut.

“Jadi ada beberapa teknologi yang sedang diinvestarisir plus minusnya. Proyek ini penting, kami akan memastikan teknologi yang dipakai yang memang sudah terbukti dan dijamin keberhasilannya kami tidak mau coba-coba,” tegasnya.

Sumarsono juga mengungkapkan bahwa lelang untuk penerapan sistem ERP sudah dilakukan. “Tendernya saya kira sudah diumumkan di Dinas Perhubungan saya kira tinggal pelaksanaan yang belum,” ungkapnya.

Sumarsono berharap ERP akan jadi solusi yang mutakhir sehingga sosialisasinya harus betul-betul matang agar penerapannya nanti bisa efektif.

“Kalau ERP efektif, ya saya kira itu yang terbaik. Jadi saya belum bisa menjawab, tapi secara teoritis itu yang terbaik. Cuma ya nanti masyarakat perlu diberi tahu lah. Masa tiba-tiba lewat saja, kan gitu. Perlu sosialisasi yang matang,” pungkasnya.

Sumber: merdeka.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here