Anda bosen bicara politik?  Suka atau tidak suka, masalah politik akan terus ada, sepanjang ada negara dan pemerintahan, karena memang politik adalah bagaimana cara seseorang menggapai puncaka kekuasaan di negara, di pemerintahan atau di partai politik itu sendiri. Selama manusia haus akan kekuasaan, selama itu pula masalah politik akan dibicarakan orang.

Anda bosan?  Baik, mari kita bicarakan yang lainnya, kalai ini kita bicarakan sesuatu yang terdengar asing, padahal dalam pengertian sehari-hari itu sudah sangat lazim, yaitu perantau, yang dalam arti luas disebut Diaspora.

Apa itu Diaspora?

Kalau dalam arti sempit Diaspora adalah perantau yaitu orang yang meninggalkan tanah kelahirannya untuk pergi ke daerah atau ke negara lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik, ketimbang di daerah atau negaranya sendiri, dan orang-orang seperti biasanya kalau di Indonesia terkenal perantau-perantau dari Sumatara Barat, orang Padang dan pelaut-pelaut nenek moyang kita, yaitu orang-orang Bugis dari Makasar, sehingga ada lagu “Nenek Moyangku Pelaut”.

Walaupun di daerah-daerah lain banyak sekali perantau-perantau yang meinggalkan daerah di Indonesia, sedangkan bagai negara, peranatu-perantau yang paling terkenal adalah Cina dan India, mana ada di suatu negara yang tidak ada orang Cina dan orang Indiannya?

Hampir semua negara di dunia pasti akan ketemu orang Cina dan orang India, yang memang terkenal sebagai perantau-perantau ulung, apalagi Cina, sehingga di suatu negara-negara besara biasanya ada “Kota Cina”, Cina Town dan di Rusia di sebut” Kitai Gorod”, sampai-sampai di Rusia, khususnya Moskow, ada yang namanya stasiun Metro (kereta bawah tanah) Kitai Gorod dan nama jalan Kitai Gorod, letaknya hanya beberapa meter darai pusat kekuasaan Rusia, Kremlin.

Lalu apa pengertian Diaspora?

Anda mungkin juga jarang mendengar Istilah ini, Sayapun awalnya demikian, sehingga ketika ada pertemuan di kantor yang membewah tentang Diaspora Indonesia, Sayapun mencari Istilah Diapora tersebut di internet, di Wikipedia.

Menurut Wikipedea pengertian Diaspora sebagai berikut: Istilah diaspora (bahasa Yunani kuno διασπορά, “penyebaran atau penaburan benih”) digunakan (tanpa huruf besar) untuk merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena penyebaran dan budaya mereka.

Mulanya, istilah Diaspora (dengan huruf besar) digunakan oleh orang-orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan.

Asal usul kata itu sendiri diduga dari versi Septuaginta dari Kitab Ulangan 28:25, “sehingga engkau menjadi diaspora (bahasa Yunani untuk penyebaran) bagi segala kerajaan di bumi”. Istilah ini telah digunakan dalam pengertian modernnya sejak akhir abad ke-20. Makna aslinya terlepas dari maknanya yang sekarang ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan kata “diaspora” digunakan untuk merujuk secara khusus kepada penduduk Yahudi yang dibuang dari Yudea pada 586 SM oleh Babel, dan Yerusalem pada 135 M oleh Kekaisaran Romawi.

Istilah ini digunakan berganti-ganti untuk merujuk kepada gerakan historis dari penduduk etnis Israel yang tersebar, perkembangan budaya penduduk itu, atau penduduk itu sendiri.

Bidang akademik dari studi diaspora terbentuk pada akhir abad ke-20, sehubungan dengan meluasnya arti ‘diaspora’. Jacob Riis, seorang penulis yang tajam, menyimpulkan bahwa diaspora terbentuk pada pertengahan abad ke-20, namun pada kenyataannya makna diaspora yang diperluas baru disediliki pada akhir abad ke-20. Pada abad ke-20 khususnya telah terjadi krisis pengungsi etnis besar-besaran, karena peperangan dan bangkitnya nasionalisme, fasisme, komunisme dan rasisme, serta karena berbagai bencana alam dan kehancuran ekonomi.

Pada paruhan pertama dari abad ke-20 ratusan juta orang terpaksa mengungsi di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Banyak dari para pengungsi ini tidak meninggal karena kelaparan atau perang, pergi ke benua Amerika.

Dengan demikian jelas sudah bahwa Diapora itu sebenarnya adalah para perantau yang  meninggalkan tanah kelahirannya, siapapun orangnya dan dari manapun asal daerah dan negaranya. Kalau untuk Indonesia para perantau yang paling terkenal ya para TKW dan TKI itu, yang dikenal sebagai “pahlawan Devisa” yang seringkali nasibnya menjadi “rebutan” orang-orang di Bandara ketika mendarat atau kembali dari rantauannya, apa lagi bukan untuk”dimakan” oleh oknum-oknum tertentu di Bandara.

Dalam pengertian Diaspora Indonesia, bukan hanya TKW atau TKI itu saja yang termasuk Diaspora Indonesia, paling tidak ada empat kelompok Diaspora Indonesia, yaitu: Pertama  adalah  orang Indonesia yang berpaspor Indonesia, meninggalkan tanah airnya untuk bekerja di luar negeri atau menetap di luar negeri, orang-orang yang termasuk delam kelompok ini adalah seperti para diplomat, TKW atau TKI dan lain sebagainya.

Kedua,  orang Indonesia yang kemudian menjadi warga negara lain, atau pindah menjadi warga negara dimana mereka tinggal, termasuk orang-orang Makasar yang meninggalkan tanah airnya sampai ke ujung Afrika Selatan, sejarahnya ketika seorang Pahalwan Nasional Syekh Ysusuf di buang oleh Belanda ke Afrika Selatan, sehingga konon, ada Kampung Makasar di Afrika Selatan, dan jangan lupa Sykeh Yusup dikenal juga sebagai Pahlawan di Afrika Selatan.

Sumber dari sebuah presentasi tentang Diaspora Indonesia. Juga orang-orang keturunan Jawa di Surinema, Amerika Selatan. Orang-orang Maluku yang banyak di Belanda, atau orang Indonesia lainnya, yang menjadi warga negara di Cina, Rusia, Inggris, Amerika, Perancis dan lain sebagainya.

Jadi siapapun WNI yang telah menjadi warna negera di mana mereka tinggal, atau isiitlahnya ganti paspor, temasuk ke dalam kelompok ke dua ini.

Ketiga adalah orang-orang yang menjadi keturunan dari Indonesia, atau blasteran, baik dari pihak laki-laki atau pun perempuan yang menikah dengan orang luar negeri, dalam kelompok ketiga ini, baik karean hasil perkawinan dari pihak laki-laki ataupun peremupuan yang kemudian mendapat anak dari hasil perkawinan tersebut.

Misalnya ada Mahasiswa Indonesai yang belajar ke Rusia, lalu menikah dengan mahasiswi dari Rusia, ini banyak terjadi di tahun 60 an, nah anak keturunan mereka termasuk ke dalam kelompok ini. Begitu juga orang Indonesia  yang menikah dengan orang Belanda, orang Amerika, orang Inggris dan lain sebagainya, kemudian mendapat anak dari hasil perkawinan tadi, termasuk dalam kelompok ini.

Keempat, sebagai kelompok terakhir dari Diaspora Indonesia adalah para pecinta Indonesia di negara manapun, biasanya adalah orang-orang yang pernah tinggala di Indonesia, baik diplomat atau para mahasiswa atau pekerja yang pernah bekerja di Indonesia, kemudian mereka kembali ke negara masing-masing dan biasanya ” jatuh Cinta” dengan masakan Indonesia dan  budaya Indonesia.

Termasuk juga para peneliti atau pera cendiakawan yang tetap ada di negara mereka, tapi punya hubungan baik dengan KBRI setempat. Dan menurut data tidak resmi di seluruh dunia Diaspora Indonesia ternyata jumlahnya tak main-main, berkisar antara 6- 10 juta orang! Dan yang terbanyak memang ada di Malaysia dan di negara-negara Timur Tengah, kebanyakan memang TKW atau TKI.

Dan jumlah tersebut ternyata tiga atau lima kali penduduk Singapur! Sebuah potensi yang amat besar kalau digali dan menurut data yang tak resmi lagi, pendapatan negara dari Diaspora Indonesai yang tersebar di berbagai penjuru dunia hitungannya bukan lagi jutaan rupiah, bahkan jutaan dollar atau milyaran, sebuah pendapatan yang tidak kecil! Jadi Diaspora Indonesia merupakan sebuah potensi yang besar sekali kalau difungsikan di bidang ekonomi, sosial budaya, moral, dan lain sebagainya.

Potensi ini akan lebih besar lagi kalau pemerintah Indonesia dapat memberikan pelayanan atau dukungan  yang sebaik-sebaiknya bagi para pahlawan-pahlawan devisa negara tersebut. Juga bisa digali dibidang teknologi, karena Diaspora Indonesia yang berada di negara-negara maju yang sudah menjadi warga negara setempat ternyata tetap Indonesianis dan teknologi mereka kuasai, tetapi cinta Indonesia. Sehingga ada istilah jangan samakan Paspor dengan Nasionalis!

Maksudnya, walaupun paspornya bukan lagi Indonesia, tapi rasa kebangsaan Indonesia tetap melekat sepanjang hayat mereka, sehingga rasa cinta Indonesia tak akan pernah hilang bagi Diaspora Indonesia walaupun lebih dari separuh hidup mereka tinggal atau menjadi warga negara setempat!

Dan konon rasa cinta tanah air memang lebih terasa ketika orang-orang Indonesia berada di luar negeri, maka jangan heran ketika mereka pulang kampung dan kembali ke negara tempat mereka bekerja sekarang,  yang menjadi oleh-oleh mereka adalah mie instan, kecap, cabe rawit atau ikan asin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here