RMOL. Utang dinilai tetap akan menjadi langkah yang diambil pemerintah dalam menutup defisit anggaran sebesar 2,92 persen dalam rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017. Padahal di satu sisi, utang pemerintah saat ini terus meningkat.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution bahkan secara gamblang menyatakan bahwa pemerintah merasa takut dengan tren utangyang kian meningkat tersebut.

“Jangan anda tanya pemerintah ketakutan atau enggak (dengan tren utang yang tinggi). Kalau ditanya takut, semua juga takut. Masa, anda pikir orang tidak punya takut,” akunya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (12/7).

Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, utangpemerintah dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) saat ini banyak dikantongi investor asing.

Menurutnya ini berbahaya karena dana bisa dilarikan ke luar negeri sewaktu-waktu.
“Jadi ada risiko yang harus diwaspadai pemerintah soal kepemilikan asing pada porsi utang kita,” pungkasnya.

Pernyataan Darmin ini tentu bertolak belakang dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sri pernah dengan tegas tidak merasa takut dengan jumlah utang yang membengkak. Kata dia, utang tidak masalah asal digunakan untuk belanja modal dan menghasilkan produktivitas.

“Kalaupun berutang sedapat mungkin untuk belanja modal dan menghasilkan produktivitas dan tingkat pengembalian bisa terbayarkan kembali. Ini masyarakat perlu tahu. Sehingga memahami dan melihat pilihannya kenapa dan untuk apa kita berutang, bagaimana mengelolanya. Jadi tidak menjadi cerita yang terlalu mengkhawatirkan bagi masyarakat,” tuturnya di Kantor Kementerian Kuangan, Jakarta, awal bulan lalu.

[ian]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here