REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wahyuni (30 tahun) merupakan salah satu mitra Amartha yang telah bergabung sejak 2014. Tuntutan akan kebutuhan hidup membuat Wahyuni terpacu untuk terus produktif dan jeli melihat peluang usaha.

Sekitar 2013, dia memutuskan untuk membuka usaha kerajinan dengan skala kecil, yaitu membuat gantungan baju atau yang sering kita kenal sebagai kapstok.

Semangat wirausaha yang tinggi mendorong Wahyuni belajar membuat kapstok secara otodidak bersama suaminya. Dia juga menyulap halaman rumahnya menjadi tempat produksi dan gudang.

Dalam menjalankan sebuah usaha, seringkali seseorang menghadapi berbagai tantangan, begitu pula dengan Wahyuni. Banyak permasalahan yang dia jumpai di awal usaha, terutama dalam hal permodalan. Untuk menekan biaya produksi, dia mengambil bahan baku yang berasal dari limbah pabrik kayu skala besar. Pemasaran produk juga masih sangat terbatas. Wahyuni beserta suami hanya mampu memproduksi kapstok berdasarkan pesanan pelanggan.

Apabila pesanan banyak, maka dia akan mengirim banyak. Namun apabila pesanan sepi, maka barang yang dikirim tidak banyak. “Biasanya dulu kalau ada yang pesen harus kasih uang DP (uang muka) dulu, baru kami bisa produksi,” ujar Wahyuni dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, baru-baru ini.

Keikutsertaan Wahyuni sebagai mitra Amartha membuka kesempatan baru untuk memajukan usahanya. Selama tiga tahun bergabung, dia telah memperoleh suntikan modal total Rp 8 juta secara bertahap. Modal tersebut dia manfaatkan untuk membeli bahan baku kayu dan juga materi lain seperti kawat dan alat untuk membuat kapstok.

Alhasil, kini dia mampu meningkatkan jumlah produksi dan meningkatkan kualitas produknya. Hasil kerja keras Wahyuni memang membuahkan hasil. Sekarang, usaha kapstok miliknyasemakin maju. Terbukti, produk Wahyuni mulai didistribusikan melalui toko swalayan besar.

Peranan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti usaha yang dilakukan oleh Wahyuni dinilai sangat penting. Pasalnyanya selama ini UMKM telah memberikan kontribusi pada produk domestik bruto (PDB) sebesar 58,92 persen dan penyerapan tenaga kerja 97,30 persen. UMKM seperti usaha kapstok yang dilakoni Wahyuni berperan penting dalam mengatasi masalah pengangguran di Indonesia.

Dengan adanya dukungan permodalan, Wahyuni mampu memproduksi hingga 150 kotak kapstok atau setara dengan 9.000 buah dalam satu pekan. Usaha miliknya juga mulai dibanjiri pesanan kapstok sehingga Wahyuni mampu membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga di sekitar tempat tinggalnya. “Sekarang sudah ada empat karyawan yang bantu saya, dan jumlah gudang juga nambahjadi tiga yang tadinya cuma satu, jadi produksinya semakin banyak,” kata dia.

Wahyuni pun mengajak ibu-ibu di lingkungan sekitarnya untuk menyetor kapstok kepadanya. “Mereka ambil bahan baku di sini lalu setelah jadi, diantar ke sini,” ujarnya.

Meski telah menjadi pemasok beberapa swalayan di Jakarta, pemilik kapstok yang diberi label cap Megah ini terus bertekad mengembangkan usahanya. Tekad Wahyuni untuk semakin berdaya tidak muncul begitu saja. Semangat untuk maju yang dia miliki dilatarbelakangi oleh mimpi untuk mensejahterakan keluarganya. “Saya dulu masih numpang di rumah ibu mertua. Bareng-bareng nih di sebelah”, ujarnya.

Wahyuni selalu ingin memiliki rumahnya sendiri supaya dia tidak merepotkan orang lain. Meski begitu, saat awal memulai usaha kapstok banyak yang menentangnya, termasuk sang suami. Alasannya sangat sederhana, karena meragukan kemampuan Wahyuni yang memang belum pernah memulai usaha apapun.

Untungnya, semua keraguan tersebut tidak menyurutkan niat Wahyuni. Meski perjalanannya tidak selalu mulus, mulai dari kendala modal, pemasaran yang minim, sampai menjadi korban penipuan konsumen, Wahyuni tetap teguh berusaha. Melihat kegigihan ini, sang suami memutuskan untuk membantu Wahyuni secara total dan berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Dukungan positif sang suami membuat Wahyuni semakin terpacu untuk maju.

“Dulu awalnya paling seminggu Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu, sekarang Alhamdulillah seminggu bisa Rp 5 juta sampai Rp 10 juta,” kata dia.

Profit dari usaha kapstok dimanfaatkannya untuk membangun rumah impian. “Alhamdulillah sejak tahun kemarin (2016) saya bangun rumah di sini, dan sekarang sudah punya rumah sendiri,” ujarnya.

Rasa haru dan bahagia berkecamuk di hatinya karena pada akhirnya Wahyuni mampu mewujudkan mimpinya. Dari Wahyuni publik bisa belajar mengenai dedikasi, kompetensi, dan kemauan untuk bekerja sama. Kisah seperti Wahyuni, menjadi inspirasi Amartha sebagai penyedia layanan peer to peer lending Indonesia untuk selalu memacu diri, membuka lebih banyak kesempatan untuk perempuan-perempuan di pedesaan agar lebih berdaya. Sama seperti Wahyuni, Amartha memiliki mimpi, dan mimpinya adalah untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera merata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here