Merdeka.com – Perusahaan konsultan Mckinsey & Co memprediksikan,pasar e-commerce Indonesia akan menjadi yang terbesar di dunia. Saat ini, Indonesia berada di posisi ke enam sebagai negara dengan pasar terbesar di dunia, dengan memiliki USD 2 miliar pasar e-commerce.

Menariknya, perkembangan cepat bisnis online di Indonesia ternyata tidak didukung oleh penetrasi penggunaan internet di Indonesia, yang ternyata hanya berjumlah 38 persen dari total penduduk.

Diperkirakan, akan ada sekitar 90 juta WNI bakal masuk ke orang yang berperilaku konsumtif pada tahun 2030. Selain itu, diperkirakan tahun 2030 nanti, 71 persen penduduk Indonesia akan tinggal di daerah perkotaan, dengan demikian nantinya peluang bisnis online akan menjadi terbuka lebar.

“Kami telah melihat peningkatan tajam dalam pengunjung online sejak kami menetapkan diri di Indonesia,” kata Managing Director Lamudi Indonesia, Mart Polman sebuah portal properti global dalam keterangannya kepada merdeka.com diJakarta, Kamis (13/10).

Mart juga mengatakan, dengan semakin banyaknya penduduk Indonesia yang memiliki akses internet, akan membuat pasar real estate bergeser sepenuhnya ke online. “Nantinya akan pencarian properti akan banyak dilakukan melalui online,” ujar Mart.

Pasar bisnis online di Indonesia tumbuh berkembang dengan cepat, sehingga membuat pemain harus bisa beradaptasi dengan perubahan tren. Contohnya seperti Go-Jek, yang awalnya bermula dari layanan aplikasi untuk memanggil ojek, kini berkembang menjadi layanan untuk memesan tiket bioskop hingga urusan kecantikan.

Hadirnya bisnis online di Tanah Air ternyata juga memberi dampak negatif. Berikut dampak buruk hadirnya belanja online di Indonesia:

Pemerintah khawatir perkembangan bisnis online akan menggerus keberadaan pasar tradisional. Maka dari itu, pemerintah berharap pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tidak terlalu bergantung pada media penjualan berbasis daring.

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga tidak memungkiri jika penjualan melalui online bisa meningkatkan kinerja penjualan pelaku bisnis. “Saya yakin bisnisonline ini sesuatu yang bisa menggulirkan pendapatan para pelaku UKM tapi tak boleh sampai semuanya dengan online. Pasar kita nanti bisa sepi,” katanya kepada wartawan saat wawancara usai meresmikan Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM) Center, di Jalan AP Pettarani, Makassar, Rabu (25/1).

Pada tahun ini, pemerintah telah meningkatkan target penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) untuk membantu para pelaku UKM nasional. Di mana, target penyaluran KUR ini dipatok pada besaran Rp 110 triliun. Sementara, bunga KUR ditetapkan tetap di 9 persen.

“Tahun 2016 lalu bantuan dananya sebesar Rp 100 triliun, 94 persen di antaranya atau Rp 94 triliun yang terserap. Sekarang tahun 2017 kita tambah lagi menjadi Rp 110 triliun untuk para pelaku UKMK dan koperasi ini. Itulah keberpihakan rill pemerintah,” tuturnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Menteri Puspayoga menjelaskan bahwa pemerintah juga mempunyai program bantuan dengan memberikan kemudahan impor bagi UKM dengan tujuan penjualan ekspor. Rencananya, program tersebut akan diluncurkan pada 30 Januari mendatang oleh Presiden Joko Widodo di Boyolali.

“Kalau ada pengrajin yang bahan bakunya harus impor, ini akan diberikan insentif dan program ini dikerjasamakan dengan Kementerian Keuangan. Kemudian pembiayaannya, sudah ada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau LPEI. Koperasi yang mempunyai tugas untuk mengumpulkan UMKM yang akan ekspor,” ungkapnya seraya menambahkan, LPEI memiliki skema yakni UKM yang melakukan ekspor tidak setiap bulan dimintai cicilan.

Kios-kios di pusat penjualan barang elektronik, Pasar Glodok mulai banyak yang tutup. Toko elektronik yang buka pun tidak sebanding dengan jumlah pembeli yang datang.

“Lagi sepi bang. Sudah hampir dua bulan belakangan ini sepi,” ujar pedagang laptop Yono di Pasar Glodok, Taman Sari, Jakarta, Sabtu (15/7).

“Tidak tahu juga (kenapa pengunjung sepi). Ya mungkin karena ada yang jualan online itu ya, jadi semuanya pada lari ke online,” kata Yono.

Pantauan merdeka.com, suasana yang lebih lengang lagi akan terlihat bila pengunjung beranjak ke lantai yang lebih tinggi. Jumlah deretan toko yang ditutup makin banyak di tiap lantai.

Hal ini menyebabkan lingkungan sekitar menjadi kotor dan tidak terawat. Lorong depan toko yang tutup tampak tidak dibersihkan. Hal ini nyata dengan banyaknya puntung rokok dan bungkusan makanan ringan yang dibuang begitu saja.

Selain itu, tumpukan kardus barang elektronik yang memenuhi lorong serta minimnya penerangan pun menambah kesan tak terawat sehingga membuatpengunjung enggan lewat.

Di lantai 5 Pasar Glodok, kondisi cukup miris. Banyak toko tutup dan pengunjung tak banyak yang datang. Cuma suara pedagang yang ngobrol satu sama lain atau menyapa satu atau pengunjung yang lewat. “Kalau yang ini setahu saya bukan pada tutup, tapi sejak saya mulai di sini memang belum pernah buka,” kata penjual game, Chandra.

“Ya seperti saya bilang tadi. Teknologi sudah pada ketinggalan mungkin cari usaha lain, buka toko lain kali. Kalau jual kayak suku cadang, alat-alatnya itu tidak bakal bertahan. Kalau buka sih tidak ada, banyaknya yang tutup,” tambahnya.

Bos CT Corp yang juga menteri koordinator perekonomian era SBY, Chairul Tanjung, mengungkapkan bahwa skema jual beli online atau e-commerce berpotensi meningkatkan pengangguran di Tanah Air. Sebab, pedagang tradisional akan semakin kehilangan pembeli dan terpaksa gulung tikar.

“E-commerce itu suatu mekanisme dapatkan customer dengan bakar uang sehinggaharga yang diberikan pasti jauh lebih rendah dari pedagang normal,” ujarnya saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (4/4).

Menurutnya, solusi dari permasalahan ini ialah pedagang harus meningkatkan kualitas hidupnya dengan mengikuti perubahan zaman. Tiga kunci yang harusdipunya ialah inovasi, kreatif, dan jiwa kewirausahawan.

“Kita sedang menghadapi sebuah perubahan luar biasa,” tuturnya.

Perkembangan teknologi, lanjutnya, juga mengancam pekerja sektor formal. Sebab, tenaga kerja manusia di masa depan akan digantikan dengan robot.

“Bayangkan mobil tidak punya sopir. Bayangkan berapa juta sopir kehilangan pekerjaan. Bayangkan pesawat tidak butuh pilot.”

Ekonom mikro, James Adam menilai, salah satu faktor pemicu maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap para pekerja ritel sejak awal 2017 adalah karena berkembang pesatnya belanja dalam jaringan (daring) atau online.

“Pelaku usaha ritel mengakui kesulitan dengan kondisi (belanja online dominasi belanja konvensional) yang tengah dialami industri jenis ini sampai merambat ke para pekerja ritel di-PHK akibat lemahnya daya beli masyarakat secara langsung ke ritel,” katanya seperti dikutip Antara Kupang, Senin (17/7).

Anggota IFAD (International Fund for Agricultural Development) untuk program pemberdayaan masyarakat pesisir NTT itu mengatakan, kejadian ini sangat terkait bagaimana antisipasi pemerintah terhadap PHK ribuan pekerja ritel.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey mencatat, terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan pekerja ritel sejak awal 2017.

Rinciannya, sekitar 2.000 PHK terjadi saat pemberhentian operasi gerai 7-Eleven di Indonesia, dan 1.000 PHK lainnya menyebar di seluruh gerai hypermarket atau supermarket skala besar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here