RAKYAT.NET, Jakarta – Kecepatan kita saat berjalan ternyata bisa menjadi alat untuk memprediksi kematian akibat penyakit jantung. Begitulah kesimpulan para peneliti di Inggris dan dimuat di Live Science.

Menurut penelitian, orang-orang berusia paruh baya yang mengaku terbiasa berjalan dengan lambat risiko meninggal dunia karena penyakit jantung dua kali lipat dibanding mereka yang terbiasa berjalan dengan cepat. Peneliti juga mempelajari kebiasaan para peserta penelitian, seperti kebiasaan berolahraga, pola makan, dan apakah mereka merokok dan menenggak minuman beralkohol.

Para peneliti itu menjabarkan hasil studi mereka di European Heart Journal pada Agustus 2017. Untuk studi tersebut, para peneliti menganalisis informasi dari 420 ribu orang berusia paruh baya di Inggris dan kehidupan mereka terus dipantau selama enam tahun. Tak ada peserta yang berpenyakit jantung pada awal penelitian.

Para peserta diminta menyebutkan cara berjalan mereka, cepat, sedang, atau lambat. Para peserta juga menjalani tes di laboratorium untuk mengetahui kondisi kebugaran mereka. Selama masa penelitian, 8.600 orang di antaranya meninggal dunia, 1.650 di antaranya akibat sakit jantung.

Mereka yang mengaku biasa berjalan lambat lebih berisiko meninggal akibat penyakit jantung antara 1,8 sampai 2,4 kali lipat dibanding yang terbiasa berjalan cepat. Risiko semakin tinggi pada mereka yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) rendah karena tandanya orang tersebut kurang gizi atau kehilangan banyak jaringan otot seiring pertambahan usia, atau yang dikenal dengan istilah sarkopenia.

Selain itu, berdasarkan hasil tes, kecepatan berjalan juga berkaitan dengan level kebugaran. Artinya, kondisi kebugaran yang rendah pada mereka yang terbiasa berjalan lambat juga menjadi pemicu risiko kematian akibat penyakit jantung yang lebih tinggi. Akan tetapi, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Sumber: tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here