RAKYAT.NET, Jakarta – Di bulan Ramadhan, setiap umat Muslim wajib melakukan ibadah puasa. Waktu puasa ditentukan sesuai jadwal sahur hingga buka puasa. Di negara-negara dekat garis katulistiwa seperti Indonesia, perhitungan lama waktu puasa mudah dihitung dan cukup mudah untuk dilakukan. Selain durasi atau lama waktu puasa yang tidak terlalu panjang, waktu terbit dan terbenamnya matahari pun dapat diketahui dengan pasti.

Namun berbeda yang dialami umat Muslim di negara-negara lingkar Arktik atau lingkar kutub utara bumi. Di daerah kutub tersebut ada kalanya matahari tidak terbenam selama berhari-hari sehingga waktu puasa harus menyesuaikan negara lain.

Jadwal puasa astronot Muslim

Bagaimana astronot muslim yang berada di luar angkasa menentukan jadwal sahur dan buka puasa? Perhitungan waktu di bumi berbeda dengan di luar angkasa. Satu hari di luar angkasa tidak setara dengan 24 jam. Bagi astronaut yang berada di ISS (International Space Station), 1 hari di bumi malah setara dengan 16 hari. Ini dikarenakan ISS mengorbit Bumi setiap 90 menit sekali dalam 24 jam.

Dengan perhitungan waktu yang membingungkan, puasa di luar angkasa pun tentunya akan memberikan tantangan tersendiri bagi para astronot Muslim. Seperti pernah dialami oleh astronot Muslim berasal dari Malaysia di tahun 2007.

Dilansir dari Foreign Policy. Saat itu, ada seorang astronaut Muslim asal Malaysia bernama Sheikh Muszaphar Shukor yang dikirim ke ISS bersama 2 kosmonot Rusia. Sheikh Muszaphar Shukor pun harus melakukan berbagai penyesuaian seputar ibadah puasa. Department of Islamic Development di Malaysia pun sampai memberikan panduan tersendiri.

Sheikh Muszaphar Shukor diberi dua pilihan. Yaitu menunda puasa sampai kembali ke bumi atau mengikuti waktu matahari terbit dan terbenam di Baikonur, Kazakhstan tempatnya diluncurkan ke ISS. Namun demikian, akhirnya Menteri Pendidikan Malaysia saat itu menyatakan bahwa Muszaphar diizinkan untuk menunda puasanya hingga selesai melakukan misi di ISS luar angkasa.